Egg freezing atau pembekuan sel telur kian populer di ranah global sebagai metode mutakhir untuk mengawetkan kesuburan wanita. Secara medis, prosedur ini dilakukan dengan mengambil, membekukan, dan menyimpan sel telur yang belum dibuahi (unfertilized eggs). Ketika pasien sudah siap untuk memiliki anak di masa depan, sel telur tersebut akan dicairkan, dibuahi dengan sperma melalui proses In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung, lalu ditanamkan kembali ke dalam rahim. Tingkat keberhasilan kelahiran hidup dari metode ini sangat bergantung pada jumlah sel telur yang disimpan serta usia wanita saat menjalani prosedur, dengan masa keemasan paling optimal berada di usia 25 hingga 35 tahun.
Secara teknis, proses medis utama ini memakan waktu yang tidak sebentar karena harus melalui berbagai tahapan klinis yang terstruktur. Tahap awal dimulai dengan tes deteksi penyakit seperti HIV atau hepatitis, disusul dengan pemberian suntikan hormon dan obat-obatan untuk proses pematangan ovarium. Ketika sekitar 6 hingga 15 sel telur sudah matang, dokter akan melakukan tindakan ovum pick up atau petik telur dari ovarium melalui vagina menggunakan alat khusus di bawah pengaruh anestesi umum. Sel-sel telur yang didapat kemudian langsung dibekukan dengan prosedur vitrifikasi kilat di laboratorium agar bisa disimpan untuk jangka panjang dengan masa simpan maksimal hingga 10 tahun.
Melihat manfaatnya yang besar dalam memberikan fleksibilitas reproduksi, tren ini melonjak tajam secara global dengan motif dominan yang bergeser dari alasan medis menjadi alasan sosial atau pribadi. Berdasarkan pemantauan media tim riset DATASATU, jumlah siklus egg freezing di Amerika Serikat (AS) membubung 39,2% dalam setahun dari sekitar 29.000 siklus pada tahun 2022 menjadi lebih dari 40.000 siklus pada tahun 2023.
Lonjakan masif juga terjadi di Inggris yang mencatat peningkatan siklus sebesar 170% dari tahun 2019 hingga tahun 2023 dengan mayoritas pasien berusia 30 hingga 37 tahun. Pergerakan serupa terlihat di wilayah Australia dan Selandia Baru, di mana angka wanita yang membekukan sel telurnya melesat dua kali lipat hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja.
Demam regulasi inklusif di mancanegara ikut mempermudah akses bagi wanita lajang (single women) untuk membekukan sel telur tanpa hambatan status pernikahan, seperti yang berlaku di AS, Meksiko, Thailand, Spanyol, dan Portugal. Fenomena global ini pada akhirnya turut merambah ke Indonesia dan diadopsi oleh sejumlah figur publik sebagai langkah preventif untuk mengamankan rencana masa depan mereka. Luna Maya tercatat sebagai salah satu pionir selebritas tanah air yang terbuka melakukan prosedur ini pada tahun 2022 di usia 38 tahun. Langkah matang tersebut kemudian diikuti oleh deretan artis lainnya seperti Sabrina Chairunnisa yang menjalani tindakan di New York, Olla Ramlan, Selvi Kitty, hingga Dewi Perssik yang melakukan pembekuan sel telur pada tahun 2024 di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Kendati teknologinya sudah tersedia secara lokal, setiap pasien harus mempertimbangkan estimasi biaya yang bervariasi tergantung profil hormon dan dosis obat yang dibutuhkan. Biaya untuk obat stimulasi awal berkisar antara Rp20 juta hingga Rp25 juta, sementara untuk prosedur tindakan petik telur memakan biaya sekitar Rp30 juta. Proses pembekuan atau vitrifikasinya sendiri membutuhkan dana sekitar Rp3 juta per tabung cryo, sehingga total biaya keseluruhan untuk prosedur awal ini berada di kisaran Rp50 juta hingga Rp60 juta. Selain biaya tindakan, pasien juga harus bersiap dengan pengeluaran berkelanjutan berupa biaya sewa penyimpanan bulanan sekitar Rp300 ribu per bulan, di mana hingga saat ini seluruh rangkaian proses kesuburan tersebut belum ditanggung oleh fasilitas BPJS Kesehatan.