Venezuela diguncang dua gempa bumi dahsyat berturut-turut pada Rabu (24/6), yang tercatat sebagai salah satu bencana seismik terkuat di negara tersebut sejak tahun 1900. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan fenomena yang dikenal sebagai gempa kembar atau doublet ini meletus hanya dengan selisih waktu 39 detik. Gempa pertama berupa gempa pendahuluan (foreshock) bermagnitudo 7,2 berpusat di pesisir Karibia sebelah barat kota Morón, yang kemudian disusul oleh gempa utama (mainshock) berkekuatan Magnitudo 7,5 dengan pusat di tenggara Yumare. Peristiwa tektonik ini terjadi akibat patahan geser dangkal di sepanjang Sistem Patahan San Sebastian yang berada dekat batas lempeng Karibia dan Amerika Selatan.
Bencana kembar ini menimbulkan dampak fatal yang terus meluas hingga menelan ratusan korban jiwa. Hingga Jumat (26/6), Kementerian Kesehatan Venezuela mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia telah melonjak menjadi 235 orang. Selain itu, lebih dari 1.500 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara lebih dari 200 warga diduga masih terjebak di bawah reruntuhan beton bangunan. Otoritas setempat juga mencatat ribuan orang hilang akibat tragedi ini, yang memicu kepanikan massal di berbagai wilayah terdampak.
Laporan AFP menyebut, negara bagian La Guaira menjadi episentrum kehancuran yang paling parah, sehingga Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodríguez resmi menetapkan wilayah pesisir tersebut sebagai "zona bencana". Di wilayah yang dihuni sekitar 70.000 keluarga terdampak ini, puluhan gedung dilaporkan runtuh total. Kerusakan masif tidak hanya melanda pemukiman warga, tetapi juga merusak fasilitas vital, termasuk sedikitnya delapan rumah sakit, markas besar Palang Merah Venezuela, serta Kedutaan Besar Prancis. Guncangan hebat ini bahkan memicu evakuasi darurat di wilayah Amazon, Brasil, yang berjarak sekitar 1.700 kilometer dari pusat gempa.
Dampak gempa juga melumpuhkan total infrastruktur utama di ibu kota Caracas dan sekitarnya. Bandara utama Venezuela terpaksa ditutup setelah mengalami kerusakan parah akibat runtuhnya panel langit-langit terminal. Demi keamanan warga, otoritas menghentikan operasional jaringan kereta bawah tanah dan memutus pasokan gas alam. Kondisi diperparah oleh putusnya aliran listrik serta jaringan telepon seluler di beberapa area kota, sementara fasilitas sekolah dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian darurat dan pusat logistik donasi.
Menanggapi krisis kemanusiaan ini, pemerintah Venezuela mengerahkan tim SAR, kepolisian, militer, dan alat berat dari sektor swasta untuk mempercepat proses evakuasi korban. Plt. Presiden Delcy Rodríguez mengumumkan alokasi dana rekonstruksi sebesar USD 200 juta untuk memulihkan rumah sakit dan pemukiman yang hancur. Di sisi lain, solidaritas internasional mulai mengalir deras, di antaranya dari Amerika Serikat yang mengirimkan dua tim SAR perkotaan khusus beserta bantuan dana USD 150 juta, serta pengiriman bantuan kemanusiaan dari Qatar, Meksiko, dan PBB.