Pertamina Patra Niaga kembali melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku efektif mulai 1 Juli 2026. Dibandingkan dengan 10 Juni 2026, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap di Rp16.250 dan Rp17.000 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo turun 6,99% dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Dexlite mengalami penurunan 14,35% dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex mencatat penurunan terbesar, yakni 14,72%, dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.
Secara umum, harga BBM nonsubsidi mengalami fluktuasi yang cukup tajam sepanjang 2026. Setelah sempat turun pada Februari, harga kembali meningkat pada Maret dan melonjak signifikan pada April hingga Juni. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kenaikan harga minyak mentah dunia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya biaya pengadaan BBM. Memasuki Juli 2026, Pertamina melakukan penyesuaian harga dengan menurunkan beberapa jenis BBM nonsubsidi, meskipun tingkat harganya masih lebih tinggi dibandingkan awal tahun.
Dibandingkan dengan 1 Januari 2026, seluruh jenis BBM nonsubsidi masih mencatat kenaikan harga. Pertamina Dex mengalami kenaikan tertinggi sebesar 55,51%, dari Rp13.600 menjadi Rp21.150 per liter. Disusul Dexlite yang naik 45,93%, dari Rp13.500 menjadi Rp19.700 per liter, serta Pertamax Turbo yang meningkat 44,03%, dari Rp13.400 menjadi Rp19.300 per liter. Sementara itu, Pertamax naik 31,58%, dari Rp12.350 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 mencatat kenaikan paling rendah, yakni 29,28%, dari Rp13.150 menjadi Rp17.000 per liter.
Secara keseluruhan, dinamika harga BBM nonsubsidi sepanjang semester pertama 2026 mencerminkan tingginya volatilitas pasar energi. Meskipun penyesuaian harga pada Juli memberikan sedikit keringanan bagi konsumen melalui penurunan harga beberapa jenis BBM, seluruh produk BBM nonsubsidi masih dipasarkan pada level yang lebih tinggi dibandingkan awal tahun, menunjukkan bahwa tekanan biaya energi sepanjang 2026 masih belum sepenuhnya mereda.