Penyelenggaraan acara yang melibatkan pengeras suara berdaya besar atau sound horeg tercatat beberapa kali berujung maut. Berdasarkan data pemantauan media DATASATU, sedikitnya 5 orang meninggal dunia dalam berbagai peristiwa terpisah di Jawa Timur sejak 2019 hingga Agustus 2026.
Kasus paling awal terjadi di Garum, Blitar, pada 25 Februari 2019. Seorang anak berusia sembilan tahun berinisial IK atau KI tiba-tiba ambruk saat melintas di depan susunan pengeras suara hajatan milik tetangganya yang menyala kencang. Berdasarkan hasil pemeriksaan luar kepolisian, korban diduga terkena serangan jantung akibat terkejut oleh dentuman suara keras, ditambah adanya riwayat penyakit dalam serta kebiasaan merokok.
Insiden serupa menimpa Anik Mutmainah (38) di Pasirian, Lumajang, pada 2 Agustus 2025. Korban yang sedang merekam suasana karnaval mendadak mengeluh pusing lalu jatuh pingsan. Saat tiba di rumah sakit, tim medis memastikan korban telah mengalami henti jantung dan henti napas.
Selang setahun kemudian, tiga insiden beruntun terjadi sepanjang Agustus 2026 di Jember dan Banyuwangi. Pada 2 Agustus 2026, pemuda berinisial SN (29) tewas di tempat usai kepalanya membentur gapura desa saat tertidur di atas bak truk pengangkut perangkat sound horeg di Arjasa, Jember.
Selanjutnya, pada 23 Agustus 2026 di Pesanggaran, Banyuwangi, Bonari (44) ambruk di jalanan aspal saat mengiringi parade setelah berjalan sejauh satu kilometer. Korban yang sempat menenggak minuman keras jenis arak sebelum karnaval diduga mengalami serangan jantung hingga meninggal dunia.
Insiden terakhir menimpa Slamet Timbang (57) di Jombang, Jember, pada 29 Agustus 2026. Korban yang sedang berteduh di teras sebuah apotek meninggal dunia di lokasi setelah tertimpa kanopi dan dinding bangunan yang mendadak runtuh saat iring-iringan truk sound horeg melintas di depan lokasi.