Peta perekonomian global bergerak dinamis selama tiga setengah dekade terakhir. Berdasarkan data Bank Dunia yang disajikan Visual Capitalist, sejumlah negara mencatat lompatan luar biasa dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita riil berbasis keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB/PPP) sepanjang periode 1990 hingga 2025. Perhitungan ini telah memperhitungkan faktor inflasi serta daya beli riil di masing-masing wilayah.
Guyana memimpin di peringkat pertama dunia dengan lonjakan ekonomi paling tajam. PDB per kapita Guyana melesat hingga 1.549%, dari 5,1 ribu dolar AS pada 1990 menjadi 83,7 ribu dolar AS pada 2025. Pendorong utamanya adalah ladang minyak lepas pantai yang mulai berproduksi pada 2019 dan menembus kisaran 225 juta barel pada 2024, mengubah lanskap ekonomi negara berpenduduk kurang dari satu juta jiwa tersebut secara drastis.
Selain faktor komoditas, kawasan Asia mendominasi daftar negara dengan pertumbuhan tercepat berkat industrialisasi dan ekspansi perdagangan jangka panjang. China menempati posisi kedua dengan kenaikan 1.404%, membawa PDB per kapitanya dari 1,7 ribu dolar AS ke 25,1 ribu dolar AS. Pertumbuhan skala raksasa ini berhasil mengangkat hampir 800 juta orang keluar dari kemiskinan ekstrem.
Negara Asia lain di posisi sepuluh besar meliputi Myanmar di peringkat kelima (naik 563%), Vietnam di posisi keenam (naik 526%), Bhutan di posisi kesembilan (naik 391%), serta India di posisi kesepuluh (naik 369%).
Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-24 dunia dengan pertumbuhan PDB per kapita sebesar 210%. Nilai PDB per kapita Indonesia tercatat naik dari 4,9 ribu dolar AS pada 1990 menjadi 15,1 ribu dolar AS pada 2025. Tepat di bawah Indonesia, posisi ke-25 ditempati oleh Turki dengan pertumbuhan sebesar 206 persen.
Sebagai pembanding, negara-negara maju anggota G7 mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih lambat. Amerika Serikat berada di peringkat ke-88 dunia dengan kenaikan 73%, disusul Inggris (61%), Jerman (48%), Kanada dan Prancis (43%), serta Jepang (34%). Data ini mempertegas pergeseran mesin pertumbuhan ekonomi dunia dari negara maju barat ke negara-negara berkembang, terutama di kawasan Asia.