Bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan memicu gelombang kritik tajam dari masyarakat. Sorotan publik mencuat bukan hanya karena dampak kabut asap yang pekat, melainkan juga respons serta sikap para kepala daerah yang dinilai kontroversial dan kurang berempati.
Di Kalimantan Timur, Gubernur Rudy Mas’ud menuai tanda tanya saat menyebut situasi karhutla aman pada pertengahan Agustus lalu, meski pada saat yang sama kegiatan sekolah terpaksa diliburkan dan siswa diwajibkan mengenakan masker. Di tengah kondisi tersebut, ia menegaskan program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan. Berdasarkan pemantauan media tim riset DATASATU, polemik semakin meluas setelah foto dirinya makan di sebuah hotel di Singapura viral di media sosial saat daerahnya, termasuk Samarinda, masih terkepung asap. Pihak Diskominfo Kaltim kemudian mengklarifikasi bahwa kepergian tersebut berlangsung singkat pada 10 hingga 13 Oktober 2026 demi pemeriksaan kesehatan atas izin Menteri Dalam Negeri.
Kritik tajam juga menimpa Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran. Saat menghadiri perayaan hari jadi Kabupaten Kotawaringin Barat pada awal Oktober 2026, ia sempat menyebut karhutla sebagai takdir, sebelum menambahkan bahwa 97% pemicunya adalah akibat ulah manusia. Pernyataan itu kian menuai kecaman warganet setelah ia melontarkan candaan berbunyi ‘bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi’ di tengah suasana duka kabut asap.
Sementara itu di Kalimantan Barat, Gubernur Ria Norsan sempat mendampingi Presiden meninjau titik api di Kubu Raya pada akhir Agustus 2026. Namun, tensi memanas saat ia beraudiensi dengan massa mahasiswa di Bundaran Bandara Supadio pada 3 September. Ria bersikap defensif dan menuding mahasiswa tidak terjun memadamkan api, tuduhan yang langsung dibantah dengan bukti keterlibatan relawan kampus. Situasi kian tegang hingga Ria memperlihatkan gestur hendak memukul mahasiswa sebelum akhirnya dilerai rombongan.
Sorotan publik turut menyasar Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Paliwang, yang kedapatan menghadiri turnamen sepak bola alumni kampus pada awal September 2026 di tengah kebakaran lahan. Meski sempat terjun langsung memadamkan api di Tarakan, aksinya kembali dicibir karena kobaran api kembali menyala setelah ditinggalkan. Zainal membantah turnamen tersebut memakai dana APBN dan memilih berpasrah kepada Tuhan saat merespons cibiran warganet.
Di Kalimantan Selatan, Gubernur Muhidin sempat memicu perdebatan pada 22 Agustus setelah menilai karhutla sudah tidak gawat hanya dengan tolok ukur tidak adanya helikopter pengebom air (water bombing) yang melintas. Padahal, kabut asap masih menyelimuti aktivitas warga. Menyadari keterbatasan timnya, Muhidin akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada warganet pada 12 Oktober karena belum mampu menangani seluruh titik api di Kalimantan Selatan dan memilih memfokuskan pemadaman di area sekitar bandara.