Mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan tidak puas terhadap pelaksanaan Program MBG (Makan Bergizi Gratis) serta meragukan keberhasilan Program KDMP. Hal tersebut terungkap dari hasil survei nasional terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Berdasarkan hasil survei periode 5–19 Juli 2026, sebanyak 61,6% responden menyatakan tidak puas terhadap Program MBG. Angka tersebut terdiri dari 31% responden yang merasa kurang puas dan 30,6% yang mengaku tidak puas sama sekali. Sementara itu, 27,6% masyarakat merasa cukup puas dan 6,2% sangat puas. Sisanya, 4,6% responden memilih tidak tahu atau tidak menjawab.
Tingkat kepuasan terhadap Program MBG ini tercatat merosot tajam dalam 9 bulan terakhir. Pada survei November 2025, proporsi warga yang merasa sangat atau cukup puas masih berada di angka 62,5%, namun anjlok menjadi 33,8% pada Juli 2026. Sebaliknya, kelompok warga yang merasa kurang atau tidak puas melonjak dari 33,9% menjadi 61,6% pada periode yang sama.
Tak hanya MBG. SMRC juga melakukan survei untuk program KDMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih). Hasilnya, mayoritas publik, yakni sebesar 61,1%, mengaku tidak yakin program ini akan berkembang atau maju. Sebanyak 38,9% di antaranya merasa kurang yakin dan 22,2% menyatakan tidak yakin sama sekali. Kelompok masyarakat yang optimis hanya mencapai 25%, terdiri dari 22,6% cukup yakin dan 2,4% sangat yakin. Adapun responden yang tidak tahu atau tidak memberikan jawaban mencapai 13,9%.
Tren penurunan juga terlihat jelas pada Program KDMP selama 9 bulan terakhir. Proporsi warga yang merasa sangat atau cukup yakin bahwa KDMP akan maju menurun dari 43,3% pada November 2025 menjadi 25% pada Juli 2026. Di sisi lain, persentase warga yang kurang atau tidak yakin meningkat pesat dari 43,5% menjadi 61,1%.
Untuk memperoleh data tersebut, SMRC melakukan serangkaian survei nasional yang di-update terakhir pada periode 5 hingga 19 Juli 2026. Populasi survei ini mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilu, yaitu warga berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah.
Populasi dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah warga pemilik telepon genggam (HP), di mana sampel sebanyak 605 orang dipilih secara acak menggunakan metode double sampling dan diwawancarai lewat telepon. Kelompok kedua adalah warga yang tidak memiliki HP, di mana sampel sebanyak 144 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka. Dalam laporannya, SMRC juga menyebut bahwa total responden yang berhasil diwawancarai mencapai 749 orang.