Sejumlah bencana alam terjadi beruntun sepanjang November 2025 di berbagai daerah Indonesia, dipicu intensitas hujan ekstrem dan aktivitas vulkanik. Peristiwa pertama terjadi pada 5 November, ketika banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang Kecamatan Pasirian, khususnya Desa Gondoruso dan Bades. Peristiwa ini membuat 1.211 keluarga terisolasi, tiga orang mengalami luka berat, dan 477 jiwa harus mengungsi. Selain itu, puluhan rumah, lahan pertanian, hingga satu sekolah dan gardu listrik mengalami kerusakan berat.
Deretan bencana berlanjut pada 13 dan 15 November, masing-masing berupa longsor di Cilacap dan Banjarnegara. Di Cilacap, longsor mengakibatkan 15 rumah roboh dan mengancam 16 rumah lainnya. Sementara di Banjarnegara, longsor akibat hujan deras memporak-porandakan 203 rumah, merusak tempat ibadah, menutup akses antar desa, dan menghancurkan jaringan irigasi serta lahan pertanian warga.
Pada 19 November, Gunung Semeru kembali bererupsi dan berdampak pada 46 warga serta merusak belasan bangunan dan lebih dari 200 hektar lahan pertanian. Sebanyak 187 pendaki sempat terjebak sebelum akhirnya berhasil dievakuasi. Status Semeru tetap berada pada level IV atau Awas, menandakan potensi ancaman yang masih tinggi.
Puncak rangkaian bencana terjadi pada 24 November di Sumatera Utara, ketika hujan ekstrem memicu banjir dan longsor di empat kabupaten. Tapanuli Selatan menjadi wilayah terdampak terparah dengan 8 korban meninggal, 58 luka-luka, dan 2.851 warga mengungsi. Sementara itu, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah sama-sama mengalami kerusakan ribuan rumah dan infrastruktur. Rentetan kejadian ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem di Indonesia semakin sering memicu bencana besar yang berdampak luas pada keselamatan warga