Rentetan bencana alam masih terus melanda berbagai wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data kebencanaan terbaru, tercatat ada 1.526 kejadian bencana yang didominasi oleh banjir sebanyak 540 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 449 kejadian, serta cuaca ekstrem sebanyak 319 peristiwa. Selain itu, tanah longsor terjadi sebanyak 104 kali, kekeringan 86 kali, gelombang pasang dan abrasi 14 kali, gempa bumi 12 kali, dan erupsi gunung api sebanyak 2 kali.
Seluruh rangkaian bencana tersebut membawa dampak kemanusiaan yang sangat besar. Tercatat sebanyak 329 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, 1.523 warga luka-luka, dan lebih dari 3,85 juta jiwa menderita serta terpaksa mengungsi. Kerusakan tempat tinggal warga juga mencapai 33.465 unit rumah, yang terdiri atas 19.874 rusak ringan, 5.512 rusak sedang, dan 8.079 rusak berat. Fasilitas umum pun tak luput dari kerusakan dengan total 1.212 unit terdampak, mencakup 613 gedung sekolah, 379 rumah ibadah, dan 220 fasilitas pelayanan kesehatan.
Salah satu peristiwa terkini yang memperparah catatan kebencanaan nasional adalah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) dini hari. Hingga Selasa (18/8), BMKG melaporkan telah terjadi 2.119 kali gempa susulan di kawasan tersebut.
Guncangan gempa dahsyat di NTT tersebut merenggut 70 korban jiwa dan melukai 213 warga (data hingga 19 Agustus 2026). Tak hanya menelan puluhan korban jiwa, gempa di NTT juga merusak setidaknya 7.968 rumah warga dan 744 fasilitas umum, termasuk 93 gedung sekolah, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 perkantoran pemerintah. Kondisi bangunan yang hancur dan ancaman gempa susulan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi, di antaranya 3.356 jiwa di Kabupaten Sikka, 2.078 jiwa di Manggarai, 500 jiwa di Nagekeo, serta ratusan warga lainnya yang menyeberang untuk mengungsi hingga ke Bima dan Kepulauan Selayar.