Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Bencana tersebut berpotensi mengganggu pasokan kebutuhan pokok dan aktivitas berbagai sektor bisnis di wilayah terdampak.
Menurut laporan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), kerugian fisik dan material akibat gempa diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. Kerusakan mencakup sektor perumahan yang mencapai Rp 1,42 triliun dengan 19,32 ribu unit rumah rusak, fasilitas umum dan infrastruktur mengalami kerugian Rp 275,1 miliar serta hilangnya aktivitas ekonomi mencapai Rp 334,1 miliar.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyampaikan, sebanyak 4 pasar tradisional di NTT mengalami kerusakan, termasuk Pasar Inpres Ruteng di Kabupaten Manggarai yang rusak cukup berat hingga tidak dapat digunakan.
Kondisi tersebut menghambat aktivitas pasar dan distribusi bahan makanan serta kebutuhan pokok sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menjelaskan, gempa turut mengganggu sementara aktivitas perdagangan, ritel, UMKM, transportasi, pariwisata hingga kegiatan ekonomi masyarakat.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai, kerusakan infrastruktur dan keterbatasan mobilitas dapat meningkatkan biaya distribusi serta waktu pengiriman.
Menurutnya, kenaikan ongkos laut dan keterlambatan stok berpotensi menambah tekanan inflasi sebesar 0,2-0,5 poin persentase. Sementara itu, aktivitas ekonomi diproyeksikan turun 0,3-0,7% apabila gangguan berlangsung selama 1-3 bulan.