Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi dunia usaha, baik di tingkat global maupun nasional. Sejumlah perusahaan multinasional dan perusahaan di Indonesia mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja sebagai bagian dari strategi efisiensi, restrukturisasi bisnis, hingga penyesuaian terhadap melemahnya permintaan pasar.
Di tingkat global, perusahaan otomotif BMW berencana memangkas hingga 8.000 pekerja di Jerman dan sejumlah unit global lainnya mulai Oktober 2026 hingga akhir 2027. Langkah tersebut ditempuh menyusul penurunan laba perusahaan dan melemahnya permintaan pasar.
Produsen mobil sport Porsche juga mengumumkan rencana pengurangan sekitar 9.000 pekerja hingga 2035 sebagai bagian dari restrukturisasi jangka panjang perusahaan di tengah ketatnya persaingan industri otomotif global dan perlambatan permintaan.
Sementara itu, perusahaan teknologi Microsoft akan memangkas sekitar 4.800 karyawan, atau sekitar 2,1% dari total tenaga kerja globalnya, sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi dan peningkatan efisiensi operasional. Di sektor jasa keuangan, Visa mengumumkan rencana PHK terhadap sekitar 2.600 karyawan, atau hampir 7% dari total tenaga kerjanya, untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di Indonesia, ancaman PHK juga terjadi di sektor manufaktur. PT Pakerin di Mojokerto, Jawa Timur, berpotensi melakukan PHK terhadap sekitar 2.500 pekerja akibat konflik internal keluarga pemegang saham serta modal kerja perusahaan yang masih terjebak di bank yang telah dilikuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga operasional perusahaan terganggu.
Selain itu, PT Victory Apparel Indonesia di Kota Semarang akan memberhentikan 846 pekerja akibat memburuknya kondisi keuangan perusahaan. Proses PHK ditargetkan selesai dalam dua bulan sebelum masa sewa pabrik berakhir pada Oktober 2026.
Di Kabupaten Jepara, PT Samwon Busana Indonesia juga akan menghentikan operasional pabrik secara permanen mulai 1 Agustus 2026, sehingga sekitar 680 pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan.
Fenomena ini menunjukkan tekanan terhadap dunia usaha masih berlanjut akibat kombinasi perlambatan permintaan, restrukturisasi bisnis, peningkatan efisiensi, serta perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik.