Gempa bumi bermagnitudo 7.4 yang melanda Laut Maluku, Sulawesi Utara pada 2 April 2026 telah memicu peringatan tsunami transnasional di kawasan Pasifik Barat. Berdasarkan data pemodelan Pacific Tsunami Warning Center (PTWC), terdapat ancaman gelombang tsunami berbahaya dalam radius 1.000 km dari pusat gempa. Wilayah Filipina, Malaysia, dan Palau menjadi perhatian utama karena berada dalam jangkauan energi primer yang dapat memicu arus laut tidak terduga di pesisir mereka.
Meskipun potensi ketinggian gelombang di luar wilayah Indonesia diprakirakan kurang dari 0,3 meter di atas permukaan pasang, ancaman ini tetap meluas hingga ke wilayah Guam, Kepulauan Mariana Utara, dan Yap. Struktur dasar laut yang dalam di wilayah tersebut memungkinkan energi gelombang merambat secara efisien ke arah timur laut dari episentrum. Otoritas setempat diminta tetap waspada terhadap perubahan permukaan air laut yang tiba-tiba meskipun amplitudo yang diprediksi cenderung rendah.
Negara-negara yang terletak lebih jauh di utara, seperti Jepang dan Taiwan, turut masuk dalam daftar pemantauan dampak seismik ini. Meski berada di luar radius bahaya utama, sisa energi gelombang dari gempa kuat tersebut masih dapat terdeteksi melalui alat pengukur pasang surut (tide gauge) di sepanjang garis pantai mereka. Saat ini, koordinasi antarnegara di kawasan Pasifik terus diperketat untuk memantau rangkaian gelombang tsunami yang berpotensi berlangsung selama beberapa jam pasca guncangan utama.