Pemerataan fasilitas pendidikan masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sekolah masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. BPS mencatat terdapat Pulau Jawa menjadi wilayah dengan ketersediaan sekolah terbanyak di Indonesia, di mana sebanyak 53.055 desa di Jawa telah memiliki fasilitas sekolah.
Sebaliknya, ketersediaan fasilitas pendidikan masih relatif terbatas di sejumlah wilayah, khususnya Indonesia Timur. Data BPS menunjukkan jumlah desa yang memiliki fasilitas sekolah mulai jenjang SD hingga SMA/SMK di Papua Tengah mencapai 639 desa. Sementara itu, Papua Selatan memiliki 719 desa, Papua Barat 731 desa, dan Papua Pegunungan 736 desa. Adapun Kalimantan Utara menjadi provinsi dengan jumlah desa yang memiliki fasilitas sekolah paling sedikit secara nasional, yakni 570 desa.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari tantangan geografis di berbagai daerah. Banyak wilayah di Papua maupun Kalimantan Utara memiliki topografi berupa pegunungan, hutan lebat, sungai, hingga permukiman yang tersebar dengan kepadatan penduduk rendah. Akses transportasi yang terbatas membuat pembangunan infrastruktur pendidikan memerlukan biaya lebih besar dan waktu yang lebih lama dibandingkan wilayah yang memiliki konektivitas lebih baik. Akibatnya, pemerataan fasilitas sekolah menjadi lebih sulit diwujudkan.
Pemerataan fasilitas pendidikan dinilai penting untuk memastikan seluruh masyarakat memperoleh akses pendidikan yang setara tanpa terhambat lokasi geografis. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mencanangkan program Sekolah Rakyat, yakni program pendidikan berasrama gratis yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera dan berkebutuhan sosial ekonomi terbatas.
Program ini mencakup jenjang SD hingga SMA dengan pembiayaan penuh, mulai dari pendidikan, akomodasi, konsumsi, layanan kesehatan, hingga pembinaan karakter. Selain pendidikan formal, Sekolah Rakyat juga membekali peserta didik dengan keterampilan hidup dan penguatan karakter.