Angka putus sekolah di Indonesia masih menjadi tantangan dalam pemerataan akses pendidikan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah siswa yang putus sekolah pada tahun ajaran 2024/2025 masih tergolong tinggi di berbagai jenjang pendidikan.
Jenjang Sekolah Dasar (SD) mencatat jumlah putus sekolah terbesar, yakni mencapai 38.540 siswa, yang menunjukkan masih adanya hambatan bagi sebagian anak untuk menuntaskan pendidikan dasar. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa upaya menjaga keberlanjutan pendidikan, terutama bagi kelompok rentan, masih menjadi pekerjaan rumah dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Sebelumnya, angka putus sekolah sempat meningkat pada tahun ajaran 2023/2024. Berdasarkan data dari sumber yang sama, jumlah siswa putus sekolah di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) melonjak 26,30% yoy, diikuti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 12,20% yoy, serta Sekolah Dasar (SD) sebesar 10,89% yoy. Meski demikian, kondisi tersebut mulai membaik pada tahun ajaran 2024/2025. Jumlah siswa putus sekolah di jenjang SMP turun 29,47% menjadi 12.219 siswa, sementara di jenjang SMA dan SMK masing-masing menurun 30,45% dan 32,53%.
Tingginya angka putus sekolah tidak terlepas dari persoalan kemiskinan struktural. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 23,36 juta jiwa atau 8,25% dari total populasi pada September 2025. Meski demikian, angka tersebut telah menurun 15,21% dibandingkan 27,55 juta jiwa pada September 2020. Siklus kemiskinan yang berlangsung antargenerasi membatasi kesempatan anak dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi kelompok miskin dan miskin ekstrem, pemerintah mengembangkan program Sekolah Rakyat. Program ini menyediakan pendidikan berjenjang mulai dari SD hingga SMA dengan pembiayaan penuh yang mencakup biaya pendidikan, akomodasi, konsumsi, layanan kesehatan, hingga pembinaan karakter. Selain memberikan pendidikan formal, Sekolah Rakyat juga membekali peserta didik dengan keterampilan hidup dan penguatan karakter guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.