Kesenjangan distribusi tenaga pendidik di Indonesia masih menjadi tantangan nyata, terutama di wilayah bagian timur dan provinsi baru hasil pemekaran. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) tahun ajaran 2025/2026 (genap), Provinsi Papua Pegunungan menempati posisi terendah dengan total hanya 7.977 guru, disusul oleh Papua Selatan dengan 8.827 guru. Keterbatasan ini semakin terlihat pada wilayah-wilayah seperti Papua Barat Daya dan Papua Barat yang jumlah gurunya bahkan belum menembus angka 11.000, mencerminkan adanya hambatan besar dalam pemenuhan standar pelayanan pendidikan di daerah-daerah tersebut.
Fenomena menarik terlihat pada komposisi gender pendidik, di mana hampir di seluruh provinsi dengan jumlah guru tersedikit didominasi oleh perempuan. Di Maluku Utara misalnya, dari total 28.402 guru, sebanyak 21.417 di antaranya adalah perempuan, sementara di wilayah dengan jumlah guru paling kritis seperti Papua Pegunungan, jumlah guru laki-laki justru lebih dominan. Ketimpangan jumlah guru yang sangat kontras antara Maluku Utara dan provinsi-provinsi di tanah Papua ini menegaskan perlunya kebijakan strategis untuk menarik dan mempertahankan tenaga pendidik di titik-titik terjauh negeri.