Dunia tengah menghadapi krisis energi akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berkepanjangan. Kondisi ini turut berdampak pada Indonesia yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan BBM fosil domestik. Dalam situasi tersebut, pemanfaatan kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) serta teknologi elektrifikasi dalam operasional pertambangan jadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan energi fosil sekaligus menekan emisi.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik global. Ketersediaan sumber daya mineral, khususnya nikel sebagai bahan baku utama baterai EV, menjadi keunggulan utama. Kementerian ESDM mencatat, sumber daya nikel Indonesia mencapai 17,7 miliar ton bijih dan 177,8 juta ton logam, dengan cadangan sebesar 5,2 miliar ton bijih dan 57 juta ton logam. Dengan porsi mencapai 23% dari total cadangan global, Indonesia berada pada posisi strategis dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik dunia.
Peluang tersebut semakin terbuka lebar seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik secara global. Melansir data International Energy Agency (IEA), China menjadi produsen kendaraan listrik terbesar di dunia dengan penjualan mencapai 11,3 juta unit pada 2024. Sementara itu, Amerika Serikat mencatat penjualan sebesar 1,5 juta unit dan Jerman sebesar 0,57 juta unit pada periode yang sama.
Selain tiga negara tersebut, sejumlah negara Eropa lainnya juga mencatat pertumbuhan signifikan dalam adopsi EV. IEA melaporkan bahwa penjualan kendaraan listrik di Inggris mencapai 0,55 juta unit dan Prancis sebesar 0,45 juta unit, sementara Swedia mencatat 0,16 juta unit pada 2024. Tren ini menunjukkan bahwa percepatan transisi menuju kendaraan listrik terus berlangsung secara global, membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran dalam rantai pasok sekaligus mengembangkan industri hilir berbasis nikel.