Badan Pengelola Investasi Danantara kembali menjadi sorotan setelah membentuk badan usaha ekspor bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di tengah ketidakpastian global dan tekanan pelemahan rupiah.
Pembentukan PT DSI sebagai eksportir tunggal batu bara, produk kelapa sawit (CPO), hingga paduan nikel ditujukan untuk menghentikan praktik under-invoicing serta transfer pricing yang dinilai menyebabkan kebocoran devisa dalam jumlah besar. Dengan skema tersebut, pemerintah berharap penerimaan negara dapat lebih optimal.
Langkah pembentukan PT DSI juga sejalan dengan strategi Danantara yang sebelumnya aktif menggarap proyek-proyek strategis nasional berbasis hilirisasi, ketahanan energi, hingga penguatan layanan haji dan umrah. Sejumlah proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor prioritas ekonomi.
Melansir data BPI Danantara, sepanjang 2026 Danantara fokus pada proyek-proyek yang memiliki dampak penyerapan tenaga kerja besar. Pada proyek hilirisasi fase I, saat ini sedang dilakukan groundbreaking 6 proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia yang mencakup sektor energi, pangan, mineral, dan logam. Proyek tersebut dikelola secara terintegrasi lintas sektor sebagai fondasi penguatan industri nasional dan pengurangan ketergantungan impor secara bertahap. Adapun proyek senilai US$ 7 miliar tersebut diproyeksikan menyerap lebih dari 6 ribu tenaga kerja langsung.
Selain itu, pada proyek hilirisasi fase II, telah dilaksanakan pembangunan 13 proyek hilirisasi nasional tahap kedua yang terdiri atas 5 proyek sektor energi, 5 proyek mineral, dan 3 proyek pertanian. Nilai investasi proyek tersebut mencapai US$ 6,5 miliar atau setara Rp 116 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS. BPI Danantara menyampaikan proyek strategis tersebut telah menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja.
Di luar hilirisasi, Danantara juga mendukung proyek Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di lebih dari 30 titik aglomerasi yang mencakup 89 kabupaten dan kota di Indonesia dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 3,5 ribu hingga 4,5 ribu orang selama masa konstruksi.
Tak hanya itu, Danantara juga membangun pusat layanan dan akomodasi haji–umrah di Tanah Suci secara bertahap melalui pengembangan Kawasan Thakher. Kawasan tersebut telah memiliki hotel berkapasitas 1,46 ribu kamar dan ditargetkan berkembang menjadi sekitar 6 ribu kamar dengan kapasitas mencapai 22 ribu jemaah.
Proyek tersebut diperkirakan membuka hingga 7,5 ribu lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Adapun nilai investasi akuisisi hotel mencapai Rp 0,5 triliun, sedangkan pembangunan lanjutan mencatat investasi sebesar Rp 0,8 triliun.