Pemerintah Indonesia terus berupaya mengakselerasi transisi energi melalui program konversi kendaraan bermotor berbahan bakar fosil menuju tenaga listrik. Namun, berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta monitoring media Tim Riset DATASATU, terdapat kesenjangan yang sangat signifikan antara target yang ditetapkan dengan realisasi di lapangan dalam 2 tahun terakhir. Pada tahun 2023, dari target ambisius sebanyak 50.000 unit motor yang dikonversi, capaian riil hanya menyentuh angka 495 unit atau tidak sampai 1% dari sasaran. Memasuki tahun 2024, meskipun angka realisasi meningkat menjadi 1.500 unit, jumlah tersebut tetap tertinggal jauh di belakang target tahunan yang telah dinaikkan menjadi 150.000 unit. Kendati data untuk tahun 2025 tidak ditemukan, pemerintah tampak tidak menyurutkan ambisinya dengan mematok proyeksi yang jauh lebih masif pada tahun 2026, yakni menargetkan konversi hingga 6 juta unit per tahun demi mengejar visi besar 13 juta motor listrik dan 2 juta mobil listrik mengaspal pada tahun 2030 mendatang.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan langkah-langkah strategis dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, awal Maret 2026. Dalam laman resmi Kementerian Sekretariat Negara, Bahlil menjelaskan bahwa fokus utama saat ini diarahkan pada populasi sepeda motor bensin yang mencapai sekitar 120 juta unit di seluruh Indonesia. Ia juga mengungkapkan proses konversi akan dilakukan secara bertahap dan sistematis guna memastikan transisi berjalan efektif tanpa menimbulkan gejolak ekonomi di masyarakat. Sejauh ini, tren menunjukkan bahwa sekitar 200 ribu unit sepeda motor telah berhasil bermigrasi ke tenaga listrik setiap tahunnya melalui berbagai inisiatif. Ke depannya, pemerintah optimis bahwa percepatan program ini dapat terwujud berkat kemajuan teknologi yang secara konsisten mampu menekan biaya operasional konversi menjadi jauh lebih kompetitif bagi dompet konsumen umum.
Faktor biaya seringkali menjadi hambatan utama masyarakat dalam beralih ke kendaraan listrik, namun Bahlil memberikan angin segar dengan menyebutkan bahwa biaya konversi kini kian terjangkau, berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp6 juta per unit. Angka ini dinilai jauh lebih realistis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan semakin matangnya ekosistem komponen listrik di dalam negeri. Selain faktor harga, pemerintah tengah menggodok berbagai skema dukungan finansial dan insentif yang lebih kuat agar kehadiran negara dapat benar-benar dirasakan dalam meringankan beban masyarakat.