Fenomena kekeringan atau El Nino Godzilla yang melanda Indonesia selama musim kemarau 2026 meningkatkan kerentanan di sektor energi.
Laporan Transisi Energi Berkeadilan menyebutkan, El Nino menjadi tantangan sistem kelistrikan nasional karena suhu air laut dan cuaca panas dapat mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pesisir hingga pembangkit menurunkan kapasitas operasi.
El Nino juga berpotensi menghambat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang membutuhkan udara dalam proses pembakaran gas alam. Naiknya temperatur udara dapat menurunkan efisiensi PLTG.
Sedangkan, kekeringan juga mengurangi debit air bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sehingga pasokan ke turbin dan produksi listrik ikut menurun.
Selain kelistrikan, dampak kekeringan turut dirasakan pertambangan batu bara. Menurut Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), debit air sungai yang berkurang menghambat pengangkutan batu bara dengan tongkang bahkan berpotensi mengganggu ekspor.
Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono mengatakan, kekeringan di sungai Barito menghambat pengiriman batu bara dari area tambang atau jetty menuju kapal induk atau mother vessel di pelabuhan laut.
Ketika volume batu bara yang tersedia lebih kecil dibandingkan permintaan negara pembeli, gangguan transportasi dapat mendorong harga.
Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menyampaikan, gangguan rantai pasok batu bara dari Indonesia berpotensi menyebabkan lonjakan harga maksimal US$ 140 per ton, sekaligus menurunkan pendapatan anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar muat (TKBM) dan pelaku usaha pendukung sektor pertambangan.
Di sisi lain, El Nino juga berpeluang menaikkan harga crude palm oil (CPO). Ekonom Universitas Padjajaran Yayan Satyakti menjelaskan, kenaikan harga CPO dapat meningkatkan Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel.
Lebih lanjut, Naiknya harga biodiesel berpotensi menyebabkan harga BBM sektor non-Public Service Obligation (non-PSO) termasuk pertambangan sebesar Rp 20 ribu/liter.