Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan salah satu instrumen strategis yang diandalkan pemerintah dalam mitigasi serta penanggulangan bencana di Indonesia. Secara keseluruhan, BMKG mencatat ada sebanyak 324 OMC telah diselenggarakan di berbagai penjuru tanah air. Dari total pelaksanaan tersebut, fokus operasional terbesar dialokasikan untuk pembasahan lahan gambut dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan 125 operasi. Sisanya terbagi untuk pengurangan curah hujan (CH) dalam mitigasi bencana sebanyak 102 operasi, pengisian waduk sebanyak 36 operasi, serta pengamanan acara kenegaraan sebanyak 34 operasi. Tingginya proporsi operasi untuk penanganan karhutla mencerminkan urgensi perlindungan ekosistem lahan gambut dari ancaman titik api dan kabut asap pekat.
Data lain dari BMKG juga menggambarkan bahwa efektivitas OMC dalam menangani karhutla ditopang oleh tahapan teknis yang terstruktur. Proses ini diawali dengan pemantauan kondisi atmosfer secara waktu nyata (real-time). Pada fase awal tersebut, tim memonitor pergerakan massa awan, arah angin, serta tingkat kelembapan udara guna menganalisis dinamika cuaca dan menentukan koordinat wilayah yang berpotensi menjadi sasaran penyemaian awan secara presisi.
Tahap berikutnya adalah identifikasi awan potensial melalui pemanfaatan radar cuaca BMKG. Instrumen radar ini digunakan untuk memindai dan melacak keberadaan awan-awan konvektif yang memiliki karakteristik cukup matang untuk menghasilkan presipitasi. Identifikasi yang akurat menjadi penentu keberhasilan misi agar penyemaian tidak meleset dari awan target.
Setelah awan potensial terkonfirmasi, proses berlanjut ke tahap penyemaian awan (cloud seeding). Armada pesawat khusus diterbangkan untuk menaburkan garam murni atau natrium klorida (NaCl) ke dalam awan target. Garam murni berfungsi sebagai zat higroskopis yang mempercepat kondensasi butir-butir air, sehingga memperbesar peluang terbentuknya hujan. Penyemaian ini difokuskan ke kawasan lahan gambut yang terdeteksi memiliki titik panas (hotspot) guna menghentikan rembetan api dan mengembalikan kelembapan tanah di area terbakar.
Rangkaian operasional ini bermuara pada pemanfaatan curah hujan buatan di wilayah sasaran. Guyuran hujan yang terbentuk dari intervensi atmosfer tersebut berperan penting dalam meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan area yang terbakar, memadamkan titik api, serta menekan pekatnya kabut asap. Dengan alur terintegrasi mulai dari observasi atmosfer, pelacakan radar, penyemaian bahan semai, hingga presipitasi terarah, OMC menjadi pilar kunci dalam tata kelola mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan yang adaptif dan terukur. (Vebriansyah Pratama Putra)