Fenomena El Niño dengan intensitas kuat telah berulang kali memberikan dampak signifikan bagi wilayah Indonesia. Berdasarkan data BMKG, BRIN, dan media monitoring DATASATU, rekam jejak sejarah menunjukkan bagaimana iklim global ini memicu kekeringan ekstrem, mengganggu ketahanan pangan, hingga memaksa pemerintah mengambil langkah darurat.
Pada tahun 1997, kombinasi El Niño kuat dan fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) positif memicu penurunan curah hujan secara drastis di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Selain mencetak rekor suhu panas global dan memperburuk kebakaran hutan, laporan WWF mencatat bahwa krisis sektor pertanian saat itu memaksa Bulog melakukan operasi pasar beras terbesar sepanjang sejarah, yakni mencapai 2,5 juta ton untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Kondisi serupa kembali terjadi pada 2015 saat El Niño berkombinasi dengan perubahan iklim global. Bencana kekeringan melanda 16 provinsi dan menyebabkan defisit air hingga 20 miliar meter kubik di kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dampaknya, seluas 111.000 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan. Pemerintah merespons krisis ini dengan mendistribusikan air bersih serta menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hujan buatan menggunakan pesawat CN-295.
Berlanjut ke tahun 2023, fenomena El Niño yang bertahan hingga akhir tahun berdampak pada 63% wilayah Indonesia, terutama bagian timur. Dalam laporannya, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DJPI KLHK) menyebut bahwa meskipun menyebabkan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 994.313,18 hektar, upaya pencegahan sejak awal tahun berhasil menekan area kebakaran 30,80% lebih kecil dibanding 2019 melalui patroli terpadu, operasi TMC, dan pemadaman udara water bombing.
Sementara pada tahun 2026, fenomena El Niño kuat tercatat datang lebih cepat akibat anomali iklim dunia, memendekkan siklus normal empat tahunan menjadi hanya tiga tahun. Dengan indeks ENSO mencapai +1,59 yang berpotensi menjadi sangat kuat, pemanasan suhu laut Pasifik menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia. Hal ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering dan berdurasi panjang, sekaligus menjadi tantangan serius bagi berbagai sektor pembangunan nasional.