Fenomena El Nino 2026 membawa dampak menyeluruh yang memicu ancaman bencana sekaligus peluang di berbagai sektor strategis. Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Kehutanan, minimnya curah hujan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengancam komoditas utama seperti padi, sawit, dan kopi akibat kekeringan, risiko gagal panen, dan serangan hama. Sebaliknya, cuaca kering ini menjadi berkah bagi pertumbuhan tanaman palawija, tebu, dan hortikultura. Guna mengantisipasinya, Kementerian Kehutanan menerbitkan Kepmenhut Nomor 251 Tahun 2026 dan mengerahkan 5.000 personel BKO ASN untuk memperkuat Manggala Agni di 6 provinsi prioritas, didukung operasi darat, pemantauan satelit SiPongi, hingga sanksi tegas pembekuan izin bagi perusahaan yang melanggar.
Di sektor air bersih dan pasokan listrik, penyusutan debit sungai dan waduk membuat pasokan air untuk rumah tangga, sawah, dan industri menipis, serta mengganggu operasional PLTA. Kendati demikian, minimnya tutupan awan membuka peluang optimalisasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai penopang pasokan energi nasional.
Pada ranah kesehatan publik, perubahan suhu dan cuaca panas mempercepat penyebaran nyamuk pembawa DBD dan malaria, sementara udara yang berdebu memicu lonjakan penyakit ISPA, asma, serta gangguan paru dan jantung. Cuaca panas menyengat ini turut memicu dehidrasi parah serta ancaman diare di kawasan yang mengalami krisis air bersih dan sanitasi.
Sementara itu, sektor kelautan dan pesisir merasakan dampak yang beragam. Fenomena arus dingin (upwelling) menguntungkan nelayan lewat melimpahnya tangkapan ikan cakalang, tuna, dan tongkol, serta mempercepat produksi garam rakyat. Namun, pembudidaya lele, nila, udang, dan rumput laut justru merugi akibat krisis air dan naiknya suhu air laut, yang juga memicu krisis air bersih bagi warga pesisir serta pulau-pulau kecil.
Menghadapi berbagai risiko tersebut, pemerintah dituntut mengubah pola penanganan menjadi aksi pencegahan dini berbasis data cuaca. Sinergi lintas instansi dan daerah menjadi langkah mutlak melalui pengaktifan rencana siaga, penyiapan anggaran dan fasilitas, serta pemantauan titik rawan sebelum krisis meluas.