Bencana kebakaran hutan dan lahan yang berulang sejak awal tahun kian menjerat masyarakat ke dalam krisis udara berkepanjangan. Laman SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat, total luas areal terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026 telah menembus 107.465,47 hektare. Angka tersebut melonjak drastis hingga 120% atau bertambah 58.631,66 hektare dibandingkan periode yang sama pada 2019, melesat 110% dibandingkan 2023, serta meroket hingga 366% jika disandingkan dengan tahun 2025. Dari luasan tersebut, sebanyak 54% kebakaran melahap kawasan hutan, sementara 46% sisanya melanda area penggunaan lain atau non-kawasan hutan.
Kondisi kritis ini sejatinya telah terbaca sejak April 2026 saat titik panas menembus 1.601 titik dan luasan indikasi terbakar melonjak tajam. Namun, memasuki rentang waktu berbulan-bulan sejak titik api pertama bermunculan, kepungan asap tebal tidak kunjung reda dan secara nyata membatasi ruang gerak jutaan warga.
Data Kemenkes menyebut, dampak paling parah dirasakan di tujuh provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, hingga Sumatera Selatan, yang menempatkan 10.674.201 jiwa penduduk di 63 kabupaten dan kota dalam zona bahaya paparan asap. Mutu udara di Pontianak bahkan anjlok ke level berbahaya dengan indeks 328, sementara Tebo, Barito Selatan, Katingan, hingga Pali berada di kategori sangat tidak sehat.
Akibat berbulan-bulan menghirup udara beracun, krisis kesehatan merebak cepat. Sebanyak 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA tercatat secara kumulatif, dengan lonjakan harian mencapai 4.082 kasus serta 123 orang terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit. Di Riau, kabut asap mengepung 12 kabupaten dan kota hingga memicu 3.293 penderita ISPA yang terkonsentrasi di Pekanbaru dan Pelalawan.
Berdasarkan sebaran wilayah yang tercatat di laman SiPongi Kemenhut, Kalimantan Barat menjadi daerah dengan area terbakar terluas mencapai 38.310,86 hektare, disusul Papua Selatan 25.838,53 hektare, Nusa Tenggara Timur 19.565,16 hektare, Nusa Tenggara Barat 17.406,46 hektare, serta Riau 15.738,92 hektare. Kebakaran masif juga menghanguskan belasan ribu hektare di Maluku dan Jawa Timur, serta ribuan hektare lainnya di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Riau. Selain mengorbankan kesehatan masyarakat yang dibekap asap pekat, akumulasi kerugian materiil akibat bencana ini telah menembus Rp123,1 triliun.