Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia terus menjadi perhatian serius. Berdasarkan data terbaru, Kalimantan Barat menempati posisi teratas dengan luas area terbakar mencapai 38.310,86 hektare, disusul Papua Selatan di peringkat kedua dengan luas 25.838,53 hektare. Wilayah lain yang mencatat kebakaran cukup luas mencakup Nusa Tenggara Timur seluas 19.565,16 hektare, Nusa Tenggara Barat 17.406,46 hektare, Riau 15.738,92 hektare, serta Maluku yang mencapai 14.677,00 hektare. Selain itu, Jawa Timur mencatatkan luasan terbakar sebesar 10.835,28 hektare, diikuti Kalimantan Selatan seluas 8.019,63 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, dan Kepulauan Riau sebesar 5.760,90 hektare.
Kondisi kebakaran lahan di Kalimantan Tengah pun kian mengkhawatirkan, salah satunya di Kota Palangka Raya. Melansir Beritasatu (26/8), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat area yang hangus terbakar di wilayah tersebut telah menyentuh angka 434,6 hektare. Hingga saat ini, kobaran api di Palangka Raya belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Munculnya titik-titik api baru di tiga wilayah, yakni Kecamatan Jekan Raya, Pahandut, dan Sebangau, membuat tim satuan tugas gabungan harus terus bergerak cepat berpindah lokasi untuk menjinakkan api.
Dampak karhutla kini telah merembet ke sektor kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 21 Agustus mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terdampak langsung paparan kabut asap yang tersebar di 7 provinsi, meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Imbas kemarau panjang yang terjadi, enam provinsi di antaranya bahkan telah menetapkan status siaga darurat bencana akibat ancaman kabut asap yang kian meluas.
Paparan asap pekat tersebut memicu lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan iritasi pernapasan di berbagai daerah. Kalimantan Barat tercatat mengakumulasi lebih dari 151 ribu kasus ISPA sepanjang tahun dengan konsentrasi tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Sementara itu, lonjakan tajam terjadi di Kalimantan Tengah yang mencatat kenaikan kasus mingguan hingga 78,1% dari 402 menjadi 716 kasus. Gejala gangguan pernapasan dan asma serupa turut dilaporkan di Riau serta Kalimantan Selatan, kendati belum ditemukan laporan terkait korban jiwa.
Guna merespons kondisi darurat tersebut, Kemenkes telah memobilisasi 314 tenaga medis yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi penanganan utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Bersamaan dengan penerjunan tenaga medis, pemerintah mendistribusikan berbagai perlengkapan darurat dan logistik kesehatan ke daerah terdampak. Bantuan yang telah disalurkan mencakup 278.940 lembar masker, 56 unit konsentrator oksigen, 36 tabung Oxycan, 1.000 pasang sarung tangan medis, 40 pelindung wajah, 8 set alat pelindung diri, serta 33 dus makanan tambahan yang disertai pasokan obat-obatan dan vitamin.