Sebanyak 567 titik panas (hotspot) terdeteksi tersebar di Pulau Jawa dalam kurun 24 jam terakhir. Berdasarkan data pantauan satelit SiPongi Kementerian Kehutanan yang ditarik pada Senin (7/9) pukul 12.08 WIB, Jawa Timur mencatatkan konsentrasi titik panas tertinggi di Pulau Jawa dengan total 226 titik.
Sebaran titik panas berikutnya terpantau di Jawa Tengah sebanyak 164 titik, Jawa Barat 139 titik, Banten 36 titik, dan DKI Jakarta sebanyak 2 titik, sedangkan DI Yogyakarta tercatat nihil. Pada sistem pemantauan satelit, titik panas dikelompokkan ke dalam tiga tingkat kepercayaan (confidence level) untuk mengukur seberapa akurat anomali suhu yang tertangkap satelit mencerminkan kebakaran riil di permukaan tanah, bukan sekadar pantulan panas dari seng bangunan atau bebatuan terik.
Dari total 567 titik di Pulau Jawa, mayoritas atau 413 titik masuk kategori sedang (medium) yang mengindikasikan anomali panas nyata dan perlu verifikasi lapangan, serta 145 titik berada di kategori rendah (low). Sementara itu, 9 titik lainnya masuk dalam tingkat kepercayaan tinggi (high) yang menandakan kepastian sangat kuat adanya titik api aktif atau kobaran api nyata yang sedang membakar vegetasi di darat.
Tingginya temuan titik panas di Jawa Timur berjalan seiring dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini masih ditangani di sejumlah kawasan dataran tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan dalam laman resminya, kebakaran hutan masih berlangsung di kawasan Gunung Semeru di Lumajang, Gunung Wilis di wilayah Nganjuk dan Kediri, Gunung Ungup-Ungup di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, Gunung Arjuno Welirang di Pasuruan, hingga lereng Bukit Sariwani di Probolinggo.
Kondisi paling masif terjadi di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang. Kebakaran yang pertama kali dilaporkan pada Rabu (26/8) lalu belum sepenuhnya padam. Titik api terpantau di Blok Ranukembang, Desa Ranupane, Pos 1 jalur pendakian, hingga sebelah barat Ranu Kumbolo yang masuk wilayah Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Pantauan udara sebelumnya menemukan tiga titik api di kawasan Ranu Kumbolo, dengan taksiran luasan lahan terbakar mencapai 1.888,91 hektare.
Upaya pemadaman Semeru terkendala medan jurang yang sangat curam serta tiupan angin kencang yang mempercepat perambatan api. Bantuan operasi bom air (water bombing) lewat helikopter PK-DAP milik Pemprov Jatim pun belum optimal karena mengalami gangguan kelistrikan dan keranjang penampung air, sehingga armada harus menjalani perbaikan teknis di Lanud Abdulrachman Saleh. Sembari menunggu perbaikan selesai, tim gabungan dari BPBD, TNBTS, Manggala Agni, TNI/Polri, dan sukarelawan memadamkan api secara manual serta merintis sekat bakar. Pengelola TNBTS juga telah menutup total seluruh jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026 demi keselamatan bersama.
Kebakaran juga meluas di lereng Gunung Ungup-Ungup, Kabupaten Banyuwangi, sejak Kamis (3/9) dan merembet ke wilayah Bondowoso pada Jumat (4/9) dengan estimasi area hangus sekitar 20 hektare. Karena medan penanganan darat sangat licin dan berbahaya, pengelola resmi menutup sementara akses wisata alam Kawah Ijen guna mencegah risiko bahaya bagi pengunjung serta terus menyisir pergerakan api agar tidak menyentuh jalur wisata.
Di lokasi lain, api di kawasan Gunung Wilis yang berkobar sejak Minggu (30/8) menghanguskan sekitar 5 hektare hutan di Nganjuk dan 11 hektare di Kediri, dengan vegetasi terdampak berupa serasah ranting dan ilalang kering. Di Pasuruan, kepulan asap masih teramati di kawasan Lembah Kidang lereng Gunung Arjuno Welirang, begitu pula titik kepulan asap di tebing Bukit Sariwani, Probolinggo yang masih dalam penanganan dan asesmen lapangan.
BNPB memastikan seluruh rangkaian karhutla tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun menyasar permukiman penduduk. Kendati demikian, BNPB meminta warga lereng pegunungan untuk tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar. Masyarakat dan wisatawan juga diimbau menaati larangan memasuki kawasan yang ditutup serta segera melapor ke posko terdekat apabila melihat titik api baru di dalam area hutan.