Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa Indonesia sedang mengalami fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah. BMKG juga mencatat bahwa kondisi tersebut dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga pertengahan Juli 2026, terdeteksi sebanyak 5.019 titik panas yang tersebar di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi bagi sektor-sektor yang berpotensi terdampak. Di sektor kehutanan, BMKG mengimbau peningkatan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan dan potensi karhutla. Di samping itu, karhutla juga berisiko menyebabkan gangguan pernapasan.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla, mewaspadai perubahan pola penyebaran demam berdarah dengue (DBD) dan malaria, serta mengantisipasi ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem.
Di sektor pertanian, BMKG merekomendasikan pelaku usaha tani menyusun strategi jadwal musim tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Sementara itu, pada sektor sumber daya air (SDA) dan energi, BMKG menyarankan perhitungan ketersediaan bahan baku, penentuan volume air bendungan, serta antisipasi terhadap produksi listrik pembangkit listrik tenaga air (PLTA) guna mengendalikan lonjakan konsumsi energi.
Di balik tantangan tersebut, BMKG juga melihat adanya peluang pada sektor perikanan dan tambak garam selama musim kemarau. Momentum kemarau dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi garam serta memaksimalkan fenomena upwelling guna meningkatkan hasil tangkapan ikan.
BMKG menegaskan akan terus memperbarui dan memutakhirkan informasi prediksi iklim untuk mendukung langkah adaptasi dan mitigasi yang responsif di seluruh sektor terdampak.