Indonesia memasuki periode musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas yang berpotensi melebihi kategori kuat.
Berdasarkan data BMKG hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau 54,5% luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara 77 ZOM atau 11,8% luas daratan masih mengalami musim hujan dan 113 ZOM atau 33,7% luas daratan berada di wilayah dengan tipe satu musim.
Sejumlah daerah juga mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang. HTH terpanjang tercatat di PRH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Selain itu, sebanyak 437 ZOM atau 48,77% luas daratan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi kekeringan serta membutuhkan kewaspadaan terhadap dampaknya di berbagai wilayah.
Ancaman lain yang dipetakan BMKG adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga pertengahan Juli 2026, terdeteksi sebanyak 5.019 titik panas di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
BMKG memproyeksikan Agustus 2026 menjadi puncak musim kemarau dengan cakupan mencapai 48,84% wilayah, sementara risiko karhutla diperkirakan meningkat dan mencapai titik tertinggi terutama di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.
Puncak kemarau diperkirakan masih berlanjut hingga September 2026, ketika sebanyak 25,41% wilayah daratan masih berada dalam periode tersebut. Memasuki Oktober dan November 2026, curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap.
Dengan El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kekeringan dan karhutla. Antisipasi sejak dini diperlukan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, pertanian, hingga aktivitas masyarakat.