Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan setelah mencapai puncaknya pada 2015. Berdasarkan data SiPongi Kemenhut, luas area terbakar pada 2015 menembus 2,61 juta hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp220 triliun. Saat itu, dampak kesehatan juga melonjak drastis dengan 504.000 orang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).
Pada tragedi karhutla 2015 tersebut, Sumatera Selatan menjadi provinsi yang mencatatkan area terbakar paling luas, yaitu mencapai 646.298,80 hektare. Posisi berikutnya ditempati oleh Kalimantan Tengah seluas 583.833,44 hektare, disusul Papua (350.005,30 ha), Kalimantan Selatan (196.516,77 ha), dan Riau (183.808,59 ha).
Jika dilihat di tingkat kabupaten/kota pada 2015, Kabupaten Ogan Komering Ilir di Sumatera Selatan mencatatkan wilayah terbakar terluas secara nasional, yakni mencapai 355.591,00 hektare. Wilayah lain yang juga mengalami kebakaran sangat masif di antaranya Merauke di Papua (296.018,00 ha), Pulang Pisau di Kalimantan Tengah (220.202,00 ha), Banyuasin di Sumatera Selatan (102.747,00 ha), serta Kapuas di Kalimantan Tengah (62.413,00 ha).
Setelah lonjakan besar pada 2015, luasan karhutla sempat menurun drastis pada 2016 (0,44 juta ha) dan menyentuh angka 0,17 juta ha pada 2017. Meski sempat kembali memuncak pada 2019 sebesar 1,65 juta ha dan pada 2023 setinggi 1,16 juta ha akibat fenomena iklim, angka karhutla dalam beberapa tahun terakhir relatif terkendali.
Pada 2024, area terbakar berhasil ditekan ke angka 0,38 juta ha, lalu melandai lagi pada 2025 menjadi 0,36 juta ha (turun sekitar 86% dari 2015). Sementara itu berdasarkan pemantauan per 11 Agustus 2026, total area karhutla berada di angka 0,20 juta hektare. Meski grafik secara nasional bergerak melandai, potensi ancaman tetap diwaspadai di tengah puncak musim kemarau. Kalimantan Barat saat ini mencatatkan dampak terluas dengan area terbakar mencapai 28.680,47 hektare. Posisi berikutnya ditempati oleh Riau seluas 15.477,95 hektare dan Nusa Tenggara Timur sebesar 10.538,30 hektare.
Beberapa daerah lain yang mencatatkan luasan terbakar signifikan di antaranya Maluku (7.091,07 ha), Papua Selatan (6.281,81 ha), Nusa Tenggara Barat (5.759,19 ha), dan Kepulauan Riau (5.709,27 ha). Sementara di Pulau Jawa, Jawa Timur mencatat kebakaran terluas mencapai 2.927,08 hektare, termasuk insiden api yang sempat melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa sebaran titik api pada awal Agustus 2026 telah melanda belasan kabupaten dan kota di 10 provinsi yang membentang dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Guna mencegah lonjakan kasus terulang, pemerintah pusat memperketat pengawasan di enam provinsi rawan utama, yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Tim gabungan terus memacu pemadaman lewat jalur darat maupun operasi pemadaman udara.
BNPB menegaskan bahwa ulah manusia, seperti membakar sampah serta membersihkan lahan dengan cara dibakar, masih menjadi pemicu utama munculnya titik api. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran apa pun selama musim kemarau dan segera melapor jika melihat tanda-tanda kebakaran di sekitar lingkungan mereka.