Sepanjang tahun 2026, sejumlah gempa bumi berkekuatan besar mengguncang beberapa wilayah di Indonesia dan memicu kerusakan bangunan serta jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan catatan data kebencanaan, sedikitnya terdapat tiga peristiwa gempa signifikan yang dampaknya sangat dirasakan masyarakat, mulai dari perairan Bitung di Sulawesi Utara, wilayah Torue di Sulawesi Tengah, hingga Kabupaten Nagekeo di Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa pertama terjadi pada 2 April 2026 di Perairan Bitung, Sulawesi Utara, dengan kekuatan magnitudo 7,6. Gempa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan, satu orang luka-luka karena melompat dari bangunan toko, serta memaksa 1.966 jiwa atau 568 keluarga mengungsi di 29 titik di Ternate. Selain itu, 223 rumah warga terpantau rusak dengan rincian: 104 rusak berat, 58 rusak sedang, 61 rusak ringan. Selain itu, kerusakan juga menimpa 10 unit fasilitas umum dan sosial seperti kantor, sekolah, dan tempat ibadah.
Guncangan berikutnya melanda wilayah Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada 16 Juni 2026 dengan kekuatan magnitudo 6,7. Gempa darat ini menyebabkan satu warga di Kabupaten Sigi meninggal dunia, 13 orang luka berat, dan 25 orang luka ringan. Kerusakan fisik tercatat pada sekitar 67 unit rumah warga, enam fasilitas ibadah di Sigi, dua gedung perkantoran, fasilitas kampus, perhotelan, tempat usaha, hingga fasilitas umum lainnya. Dampak gempa juga meretakkan dua jembatan, membuat jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso amblas, serta memicu longsor di Gunung Kamarora yang memutus saluran air.
Dampak paling besar tercatat pada gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Bencana ini menelan 68 korban jiwa dan menyebabkan 213 orang terluka. Jumlah pengungsi menembus lebih dari 5.000 jiwa yang tersebar di Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Nagekeo, hingga merambah ke wilayah Bima di NTB dan Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan. Kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan pun sangat masif, mencakup 7.968 unit rumah warga serta 744 unit fasilitas umum yang mengalami kerusakan. Bantuan untuk korban gempa di NTT pun mulai didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak. Melansir Beritasatu (18/8), pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait terus memperkuat koordinasi dalam penanganan darurat serta percepatan pemulihan pascagempa. Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari makanan, obat-obatan, selimut, air bersih, hingga perlengkapan sanitasi.