Aktivitas tektonik di sejumlah wilayah dunia meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir. Terhitung sejak Juni hingga Juli 2026, empat peristiwa gempa bumi berkekuatan di atas magnitudo 7,0 telah mengguncang wilayah Filipina, Venezuela, Meksiko, dan Jepang dengan dampak yang bervariasi, mulai dari kerusakan infrastruktur, longsor masif, hingga korban jiwa.
Rangkaian gempa kuat ini dibuka oleh bencana guncangan magnitudo 7,8 yang melanda bagian selatan Pulau Mindanao, Filipina, pada 7 Juni 2026. Berdasarkan catatan United States Geological Survey (USGS), guncangan hebat tersebut dirasakan oleh sekitar 15 juta jiwa serta memicu kekhawatiran atas potensi kerusakan berat dan korban jiwa akibat serangkaian gempa susulan.
Tak lama berselang, pada 24 Juni 2026, fenomena gempa kembar melanda Venezuela bagian utara, tepatnya di sebelah barat Caracas. Dua guncangan kuat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi berturut-turut ini tercatat sebagai peristiwa seismik terbesar di negara tersebut dalam lebih dari satu abad. Bencana ini memicu tanah longsor masif serta merusak berbagai fasilitas kesehatan dan ratusan sekolah, yang memaksa ribuan keluarga mengungsi dan memicu respons darurat dari UNICEF.
Bencana serupa juga melanda kawasan Amerika Tengah pada 17 Juli 2026 saat gempa berkekuatan magnitudo 7,3 mengguncang wilayah pesisir Chiapas, Meksiko. Meskipun tidak menelan korban jiwa di Meksiko, guncangan menyebabkan empat orang luka-luka, kebocoran gas, dan kerusakan ringan pada sejumlah bangunan di Chiapas dan Oaxaca. Dampak guncangan juga meluas hingga ke Guatemala, di mana beberapa gedung rusak, gelombang tsunami kecil di bawah satu meter teramati, dan kegiatan belajar mengajar di beberapa wilayah barat sempat diliburkan.
Peristiwa terbaru terjadi pada 28 Juli 2026 di Pulau Kyushu, Jepang. Melansir Beritasatu (20/7), gempa berkekuatan magnitudo 7,1 menghantam wilayah Kagoshima, Kumamoto, Yatsushiro, dan Kashima. Bencana ini menewaskan sedikitnya tiga orang, melukai sekitar 30 warga, dan menyebabkan beberapa orang hilang. Kerusakan parah terlihat dari ambruknya lantai dua sebuah pusat perbelanjaan akibat ledakan saluran gas serta robohnya cerobong asap raksasa pabrik kertas. Lebih dari 260.000 warga diimbau mengungsi, sementara operasional kereta cepat Shinkansen, penerbangan, dan beberapa pabrik besar dihentikan sementara demi alasan keselamatan.