Musim kemarau meningkatkan risiko penurunan produktivitas pertanian hingga gagal panen akibat terbatasnya pasokan irigasi. Kondisi ini terutama mengancam sawah tadah hujan yang masih bergantung pada curah hujan alami.
Data Kementerian Pertanian mencatat, luas sawah tadah hujan di Indonesia pada 2024 mencapai 2,7 juta hektare (ha), atau sekitar 36,5% dari total luas lahan baku sawah yang mencapai 7,4 juta ha pada periode yang sama.
Sawah tadah hujan tidak memiliki saluran irigasi permanen sehingga waktu tanam sangat bergantung pada musim hujan. Ketergantungan tersebut membuat sistem pertanian ini lebih rentan terhadap perubahan iklim, termasuk kekeringan akibat El Nino seperti yang terjadi saat ini.
Dibandingkan sawah irigasi, produktivitas sawah tadah hujan cenderung lebih rendah karena sebagian lahan dapat dibiarkan tidak diolah ketika pasokan air tidak tersedia. Meski begitu, sistem ini relatif lebih hemat biaya karena tidak membutuhkan pembangunan infrastruktur irigasi yang kompleks.
Penguatan teknologi pertanian menjadi penting agar produksi tetap optimal di tengah perubahan iklim. Sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan perlu ditingkatkan untuk menjaga ketersediaan pangan nasional.