Pemerintahan Donald Trump secara resmi mengambil langkah besar dalam peta perdagangan internasional dengan memilih untuk tidak memperpanjang pakta perdagangan trilateral United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA) untuk jangka waktu 16 tahun ke depan. Keputusan krusial ini diumumkan tepat pada tenggat waktu Rabu, 1 Juli 2026. Alih-alih melakukan perpanjangan otomatis, Amerika Serikat (AS) memilih untuk mengaktifkan klausul tinjauan tahunan. Meski demikian, perjanjian USMCA tidak langsung berakhir begitu saja, melainkan tetap berlaku efektif selama 10 ke depan dan dijadwalkan resmi berakhir pada tahun 2036, dengan catatan tidak ada negara anggota yang menarik diri atau tercapai kesepakatan baru di tengah jalan.
Langkah penolakan dari pihak AS ini didasari oleh 3 alasan utama yang menjadi fokus perhatian Trump. Faktor pertama dan yang paling krusial adalah masalah defisit perdagangan barang AS yang terus membengkak. Berdasarkan data tahun 2025 yang diperoleh dari laporan Reuters, defisit perdagangan barang Negeri Paman Sam dengan Meksiko telah menembus angka USD 197 miliar, sementara defisit dengan Kanada tercatat sebesar USD 48,3 miliar. Faktor kedua adalah ambisi kuat Trump untuk mengembalikan lapangan kerja manufaktur ke dalam negeri AS. Sedangkan faktor ketiga didorong oleh kekecewaan terhadap sektor pasar, di mana USMCA dinilai gagal membuka peluang pasar yang diharapkan di Kanada dan Meksiko bagi sektor susu serta beberapa sektor komoditas lainnya.
Guna memperkuat posisi tawarnya sebelum tenggat waktu tiba, Trump secara sepihak menerapkan rezim tarif yang sangat agresif terhadap kedua negara tetangganya tersebut. Kebijakan ini meliputi pengenaan tarif sebesar 25% untuk produk otomotif dari Meksiko dan Kanada, tarif 50% untuk produk logam berupa baja dan aluminium, serta tarif 10% untuk komoditas kayu. Pihak administrasi AS mengeklaim bahwa penerapan tarif curam ini terbukti efektif memotong defisit perdagangan luar negeri mereka hingga 26% dalam kurun waktu setahun terakhir.
Dalam proses renegosiasi yang kini bergulir, AS mengajukan tuntutan baru yang sangat ketat terkait aturan asal barang. Khusus pada sektor otomotif, Washington mendesak agar setiap kendaraan yang dirakit di AS wajib mengandung minimal 50% komponen asli buatan AS. Jika tuntutan ini disetujui, maka total akumulasi konten regional di dalam pakta perdagangan tersebut akan terdorong naik hingga mencapai angka 82%.
Menanggapi tekanan dari Washington, Meksiko menunjukkan sikap yang diplomatis namun tetap tegas. USA Today menyebut, Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan USMCA demi stabilitas kawasan. Menteri Ekonomi Meksiko, Marcelo Ebrard, juga menyampaikan kesiapan negaranya untuk membantu mengatasi kekhawatiran Amerika Serikat terkait defisit perdagangan dan hilangnya lapangan pekerjaan. Kendati demikian, Ebrard menegaskan bahwa Meksiko akan tetap memproteksi industri otomotif dalam negerinya agar tidak berada dalam posisi yang dirugikan. Untuk membahas pengetatan aturan asal barang tersebut serta merancang strategi keamanan ekonomi guna membendung keuntungan pihak ketiga, termasuk China, negosiasi bilateral putaran ketiga dijadwalkan bakal digelar di Mexico City pada minggu tanggal 20 Juli 2026.
Di sisi lain, Kanada merespons kebijakan sepihak ini dengan sikap yang lebih berhati-hati. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengisyaratkan bahwa negaranya tidak akan memperbarui perjanjian dagang tersebut tanpa adanya pembaruan atau penyesuaian yang adil bagi kedua belah pihak. Sejalan dengan hal itu, Menteri Dominic LeBlanc menekankan pentingnya melanjutkan diskusi dan komunikasi yang intensif. Langkah ini diperlukan guna mengatasi dampak langsung dari tarif agresif Trump pada komoditas baja, aluminium, otomotif, dan kayu Kanada, sekaligus demi menjaga daya saing serta kemakmuran ekonomi di tingkat regional.
Kebijakan proteksionisme AS ini pun langsung memicu gelombang kekhawatiran dari berbagai pelaku industri global. Di sektor manufaktur, CEO Nissan Ivan Espinosa memperingatkan bahwa tuntutan persentase konten lokal Amerika Serikat yang terlampau tinggi justru akan memperburuk masalah keterjangkauan harga bagi para konsumen atau pembeli mobil di AS. Menurutnya, rantai pasok otomotif global tidak dirancang untuk diproduksi hanya di dalam negeri Amerika Serikat saja, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah haruslah sesuatu yang realistis dan dapat dieksekusi di lapangan.
Kecemasan senada juga datang dari sektor ketahanan pangan domestik. Lembaga Agricultural Coalition for USMCA menyatakan bahwa keberlanjutan perjanjian USMCA sangat krusial bagi kelangsungan hidup para petani, nelayan, dan komunitas pedesaan di AS. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Meksiko dan Kanada merupakan pasar ekspor utama yang membeli lebih dari sepertiga atau sekitar 33 persen lebih dari total ekspor produk agrikultur Amerika Serikat, sekaligus menjadi penyedia input penting bagi operasional pertanian di negara tersebut.