Pemerintah Amerika Serikat membeberkan perincian nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin yang dicapai dengan Iran terkait penghentian konflik di kawasan Timur Tengah. Salah satu poin krusial dalam draf kesepakatan tersebut menyepakati penghentian operasi militer secara segera dan permanen di semua lini, termasuk di Lebanon. Melalui poin ini, kedua belah pihak berkomitmen penuh untuk menjaga kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon demi menciptakan stabilitas jangka panjang.
Kendati demikian, implementasi gencatan senjata ini menghadapi tantangan besar karena tidak melibatkan Israel maupun kelompok Hezbollah sebagai penandatangan formal. Di satu sisi, Israel menegaskan kebijakan militernya untuk tetap bertahan di zona keamanan Lebanon dalam waktu yang tidak ditentukan. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran secara terbuka menyatakan bahwa setiap kelanjutan operasi militer oleh Israel di Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati.
Pada sektor hulu ledak dan pemanfaatan material sensitif, Iran menegaskan kembali komitmennya untuk tidak memproduksi atau mengembangkan senjata nuklir. Terkait timbunan uranium yang telah diperkaya, draf perjanjian tersebut menyepakati metode penyelesaian berupa pengenceran (down-blending) langsung di lokasi demi menurunkan kadarnya kembali ke level pembangkit listrik. Proses yang bersifat menetap ini nantinya akan berada di bawah pengawasan ketat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Kesepakatan ini dirancang dengan sistem berbasis kinerja, di mana pemulihan hubungan ekonomi dan pencairan dana Iran yang dibekukan di luar negeri akan diberikan secara bertahap. Amerika Serikat bersedia melunakkan sanksi ekonomi dan memberikan jaminan pembebasan dana, dengan syarat mutlak bahwa Teheran mematuhi seluruh mekanisme pengurangan stok uranium tersebut. Langkah ini dipandang Washington sebagai standar minimum sekaligus keberhasilan diplomatik terbesar untuk meredam potensi eskalasi nuklir.