Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa China dan Amerika Serikat seharusnya membangun hubungan sebagai mitra, bukan saling bersaing, saat membuka pembicaraan bilateral dengan Presiden Donald Trump di Balai Besar Rakyat Beijing, Kamis (14/5). Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat menjaga stabilitas ekonomi melalui kelanjutan gencatan senjata perdagangan dan pembentukan Board of Trade. Meskipun belum ada terobosan besar, China berkomitmen membeli 200 jet Boeing serta meningkatkan impor produk pertanian dan energi dari AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.
Fokus strategis pertemuan ini juga menyasar stabilitas energi global, di mana Trump secara khusus meminta China menggunakan pengaruh diplomatiknya terhadap Iran untuk menstabilkan Selat Hormuz. Sebagai jalur arteri energi dunia, gangguan di selat tersebut telah memicu volatilitas harga minyak yang merugikan ekonomi global. Trump berharap kerja sama dengan Beijing dapat menjamin kelancaran arus pasokan minyak mentah, mengingat posisi China sebagai importir energi utama yang juga memiliki kepentingan besar terhadap keamanan jalur maritim tersebut dari ancaman konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, delegasi AS yang menyertakan Elon Musk dan Jensen Huang tetap memberikan perhatian serius pada persaingan teknologi AI dan semikonduktor. Namun, Xi Jinping mengingatkan bahwa isu Taiwan tetap menjadi batas paling sensitif yang jika disalahpahami dapat memicu benturan fisik antara kedua kekuatan besar tersebut. Sebagai penutup rangkaian agenda di Beijing, Trump mengundang Xi Jinping ke Gedung Putih pada 24 September 2026 mendatang untuk melanjutkan dialog mengenai normalisasi hubungan dan detail teknis kerja sama keamanan energi di masa depan.