Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah militer Washington melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke sejumlah fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz. Operasi militer ini memicu tanda tanya besar lantaran terjadi di tengah masa gencatan senjata sementara berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang baru ditandatangani kedua belah pihak pada 17 Juni lalu untuk mengakhiri perang yang pecah sejak Februari.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi udara ini merupakan balasan langsung atas aksi Iran yang diduga menyerang kapal-kapal dagang komersial di Selat Hormuz pada awal Juli 2026. AS menilai tindakan Teheran tersebut telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sedang berjalan.
Serangan udara AS berlangsung dalam beberapa gelombang. Melansir informasi di laman CENTCOM, Washington menggempur sekitar 80 target militer pada Selasa (7/7), termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Garda Revolusi Iran (IRGC). Ledakan keras dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah strategis pesisir seperti Pulau Qeshm dan Pelabuhan Sirik. Keesokan harinya, AS kembali menghantam sekitar 90 target tambahan yang mencakup sistem pertahanan udara, radar pantai, gudang rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik. Secara total, klaim AS mencatat sedikitnya 170 target militer Iran telah dihantam, disusul gelombang operasi besar berikutnya yang menyasar hingga 140 target.
CENTCOM menegaskan bahwa tujuan utama dari rangkaian serangan intensif ini adalah untuk mengikis kemampuan militer Iran dalam mengganggu kapal dagang sekaligus menjamin kebebasan navigasi di jalur pelayaran internasional tersebut. Namun, langkah ofensif Washington ini diambil sebelum adanya penjelasan resmi dari pihak Teheran.
Dampak dari gempuran dua hari di lima provinsi tersebut sangat signifikan. Pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka. Laporan BBC terbaru pada 13 Juli 2026 menyebut, satu korban jiwa tambahan dan empat orang luka-luka di Provinsi Khuzestan akibat serangan tersebut. Selain korban jiwa, serangan ini merusak infrastruktur vital di wilayah Bandar Abbas, Sirik, Jask, Qeshm, Konarak, Chabahar, Bushehr, dan Abu Musa. Kerusakan juga menyasar jalur kereta serta jembatan menuju Mashhad, menyebabkan pemadaman listrik di Chabahar, dan memicu kebakaran hebat di markas IRGC.
Merespons gempuran tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang diarahkan ke pangkalan militer AS serta negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah, meliputi Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, Irak, dan Oman. IRGC menegaskan operasi tersebut merupakan hak balas atas agresi Amerika. Imbas dari eskalasi ini, Iran secara sepihak mengklaim telah menutup Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut dan menyatakan hanya negaranya yang berhak mengatur lalu lintas di sana. Sebaliknya, AS menolak klaim tersebut dan menegaskan jalur pelayaran global itu akan tetap dibuka di bawah kawalan ketat militernya.