Konflik bersenjata antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah memicu penggunaan persenjataan skala besar dengan dampak kerusakan yang signifikan di kawasan. Hingga pertengahan Maret 2026, Iran dilaporkan telah meluncurkan sedikitnya 571 rudal dan 1.391 drone, meski intensitas serangan tersebut mulai menurun drastis akibat kendala produksi dan pemeliharaan stok. Di sisi lain, blok AS-Israel telah melancarkan lebih dari 2.000 serangan udara yang menyasar berbagai titik strategis, namun mulai menghadapi tantangan logistik terkait ketersediaan rudal pencegat Patriot yang mahal dan terbatas jumlah produksinya.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan mengganggu jalur perdagangan global di Selat Hormuz. Data terbaru mencatat sedikitnya 1.825 warga Iran tewas, sementara di pihak AS dikonfirmasi terdapat 7 anggota militer yang gugur di wilayah Kuwait dan Arab Saudi. Meski Iran sempat menutup akses Selat Hormuz sebagai respons atas serangan pada Februari lalu, jalur perairan vital tersebut kini dinyatakan kembali beroperasi secara terbatas, dengan pengecualian blokade tetap berlaku bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.