Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan Iran guna mengakhiri permusuhan di Timur Tengah. Trump menyatakan telah mengirimkan rencana perdamaian berisi 15 poin melalui jalur diplomatik Pakistan, di mana poin utamanya menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Meski detail lengkap dari 15 poin tersebut belum dibuka seluruhnya kepada publik, laporan dari berbagai sumber menyebutkan adanya tawaran gencatan senjata selama satu bulan untuk mendiskusikan langkah-langkah deeskalasi lebih lanjut.
Dalam draf proposal yang beredar, AS menuntut Iran untuk menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya dan menghentikan aktivitas pengayaan nuklir di masa depan. Sebagai timbal balik, Iran dijanjikan penghapusan seluruh sanksi ekonomi yang telah membelenggu negara tersebut selama bertahun-tahun. Selain itu, Iran diminta menjamin jalur aman bagi kapal-kapal non-permusuhan di Selat Hormuz, yang saat ini menjadi titik krusial pasokan energi global setelah sempat ditutup akibat ketegangan militer yang meningkat.
Meskipun Trump mengklaim adanya kemajuan dan ‘hadiah besar’ berupa konsesi dari pihak Teheran, situasi di lapangan tetap memanas dengan berlanjutnya serangan udara serta rencana penambahan ribuan tentara AS ke kawasan tersebut. Di sisi lain, parlemen Iran masih membantah adanya pembicaraan langsung dan menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu. Pakistan kini muncul sebagai mediator utama yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah bagi pembicaraan komprehensif guna mencapai penyelesaian konflik secara permanen.