Rangkaian negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung sejak April 2025 hingga Maret 2026 menunjukkan fluktuasi ketegangan yang signifikan. Proses diplomasi yang bermula di Muscat dan Roma awalnya berfokus pada pembaruan kesepakatan nuklir dan penanganan stok uranium, namun kerap menemui jalan buntu akibat tuntutan Zero Enrichment dari pihak Amerika Serikat serta penolakan keras Iran terhadap pembongkaran total program nuklir sipilnya. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada Mei 2025 ketika delegasi Iran mulai menyiapkan rencana cadangan untuk keluar dari NPT sebagai respons atas penambahan sanksi ekonomi dan tekanan militer.
Memasuki awal tahun 2026, lokasi perundingan bergeser ke Jenewa dengan tuntutan AS yang semakin meluas hingga mencakup pembatasan program rudal balistik. Meskipun Iran sempat sepakat untuk tidak menimbun uranium dan mengubah stok menjadi bahan bakar yang tidak dapat diubah kembali, sikap Teheran kembali mengeras seiring adanya protes anti-rezim di internal negara tersebut. Kondisi ini diperburuk dengan munculnya krisis energi global setelah penutupan Selat Hormuz selama empat minggu yang memicu guncangan pasokan energi terburuk dalam sejarah dunia.
Pada penghujung Maret 2026, babak baru negosiasi dibuka dengan melibatkan Pakistan sebagai mediator baru dan membahas proposal gencatan senjata selama sebulan. AS menuntut penyerahan seluruh cadangan uranium diperkaya, sementara Iran memberikan konsesi besar berupa pembukaan kembali Selat Hormuz bagi kapal non-hostile. Sebagai imbalan atas jaminan keamanan energi tersebut, pihak Iran menuntut penghapusan seluruh sanksi ekonomi secara total guna mengakhiri kebuntuan diplomasi yang telah berlangsung selama setahun terakhir.