Laporan terbaru dari Institute of Sustainability Studies merumuskan panduan strategis penghematan energi yang terbagi dalam tiga fase waktu untuk sektor rumah tangga dan bisnis. Pada tahap jangka pendek, masyarakat diimbau untuk mengubah kebiasaan dasar seperti mematikan perangkat dari saklar dan mengatur suhu AC pada kisaran 24-26°C, sementara pelaku bisnis didorong untuk melakukan pemantauan rutin terhadap peralatan yang boros listrik. Langkah sederhana di rumah seperti mencuci pakaian dengan air dingin bahkan diprediksi mampu menekan biaya pengeluaran hingga Rp1,8 juta per tahun.
Memasuki fase jangka menengah, fokus beralih pada pemeliharaan infrastruktur dan pembaruan perangkat yang lebih efisien. Pemilik rumah disarankan untuk mengganti lampu konvensional ke LED yang menghemat biaya pencahayaan hingga 80% serta memastikan isolasi udara pada pintu dan jendela berfungsi optimal. Di sisi operasional bisnis, penerapan teknologi sensor gerak dan sistem pengaturan waktu otomatis menjadi kunci untuk meminimalkan pemborosan energi di area publik atau ruang rapat yang sedang tidak digunakan.
Transformasi energi jangka panjang diarahkan pada adopsi teknologi terbarukan dan renovasi struktur bangunan dengan konsep hijau. Penggunaan panel surya serta pemanas air tenaga matahari menjadi solusi utama bagi individu untuk mengurangi ketergantungan pada listrik berbayar dengan potensi penghematan mencapai Rp18 juta per tahun. Bagi sektor industri, implementasi sistem manajemen gedung terintegrasi dan prinsip produksi ramping menjadi strategi krusial untuk memastikan penggunaan energi tetap terkendali secara waktu nyata dan efisien.