Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat sentimen konflik Iran-AS justru memberikan dorongan awal bagi saham energi dan emas. Lonjakan harga minyak mentah Brent yang dipicu penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran krisis energi global, sehingga saham sektor komoditas sempat menjadi primadona di pasar.
Pada 2 Maret 2026, saham sektor migas dan batu bara mencatatkan kenaikan signifikan setelah serangan pertama AS ke Iran pada 28 Februari 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saham PT Elnusa Tbk (ELSA) melonjak 17,65%, diikuti saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang masing-masing naik sebesar 15,65% dan 12,40%. Di sektor batu bara, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memimpin, dengan masing-masing kenaikan sebesar 15,53% dan 7,03% pada penutupan perdagangan 2 Maret 2026.
Kenaikan juga terjadi pada saham emas. Data BEI menunjukkan saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) memimpin penguatan sebesar 6,12%, disusul PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT J Resources Asia Pasifik Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk yang masing-masing naik di kisaran 5%. Peningkatan harga minyak global turut mendorong harga emas sebagai aset safe haven, di mana pada Senin (2/3), harga emas naik 0,94% sebagai respons atas serangan AS ke Iran.
Namun, dalam satu bulan terakhir, tren tersebut berbalik arah. IHSG tercatat melemah hingga 11,48% dan berada di level 7.053,8 per Selasa (31/3). Di saat yang sama, tekanan makro ekonomi meningkat, terutama potensi defisit fiskal yang diperkirakan melampaui 3%. Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa jika harga minyak rata-rata mencapai US$ 92 per barel, defisit anggaran dapat melebar hingga sekitar 3,6-3,7% terhadap PDB. Sementara itu, hingga Selasa (31/3) pukul 13.36 WIB, harga minyak Brent menurut Investing telah mencapai US$ 107,38 per barel, yang memperbesar risiko defisit di atas 3%.
Tekanan ini turut memicu aksi profit taking di pasar saham, termasuk pada sektor energi. Saham ELSA mencatat koreksi terdalam hingga 26%, diikuti saham PGAS dan INDY yang masing-masing turun lebih dari 20%. Meski harga komoditasnya masih tinggi, pelemahan IHSG dan meningkatnya risiko makro membuat kinerja saham energi dan emas cenderung rawan terkoreksi dalam jangka pendek.