Dunia pendidikan di Iran mengalami kehancuran masif menyusul rangkaian serangan udara yang dimulai sejak akhir Februari 2026. Data terbaru dari Kementerian Pendidikan setempat menunjukkan sedikitnya 230 siswa dan guru gugur, sementara lebih dari 600 sekolah serta situs budaya dilaporkan mengalami kerusakan parah. Tragedi paling mematikan terjadi pada 28 Februari 2026 di Sekolah Shajareh Tayyebeh, Minab, yang hancur total dan menelan hingga 168 korban jiwa siswi sekolah karena lokasinya yang berdekatan dengan markas brigade militer.
Selain jatuhnya korban jiwa di wilayah pelosok, pusat akademik di ibu kota juga tidak luput dari sasaran. Wilayah University Street di Teheran turut menjadi target serangan udara yang melumpuhkan aktivitas intelektual di jantung negara tersebut. Kerusakan infrastruktur yang luas ini memaksa otoritas berwenang untuk menghentikan seluruh kegiatan belajar tatap muka secara nasional demi keselamatan peserta didik. UNESCO pun telah menyatakan keprihatinan mendalam atas pelanggaran hukum kemanusiaan internasional yang membahayakan hak atas pendidikan ini.
Kini, jutaan pelajar Iran terpaksa beralih ke metode pembelajaran daring yang penuh rintangan. Efisiensi jaringan internet dilaporkan anjlok drastis hingga 98% akibat pemadaman listrik berkepanjangan dan kerusakan jaringan telekomunikasi. Kondisi ini membuat proses transfer ilmu pengetahuan hampir mustahil dilakukan, sehingga memicu kekhawatiran akan terjadinya ketertinggalan pendidikan bagi generasi muda Iran di masa depan.