Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberi tekanan pada berbagai sektor ekonomi. Ketegangan di kawasan Teluk Persia hingga Selat Hormuz mengganggu jalur distribusi perdagangan dunia. Di saat yang sama, lonjakan harga energi mendorong harga minyak mencapai sekitar US$ 100 per barel, sehingga memperbesar tekanan biaya di berbagai sektor ekonomi.
Dampak langsung terlihat pada sektor transportasi dan logistik. Gangguan pelayaran memperlambat distribusi barang serta meningkatkan biaya pengiriman. Risiko yang meningkat juga mendorong kenaikan premi asuransi kargo dan biaya keamanan, sehingga margin pelaku logistik tertekan. Di sektor pariwisata, mobilitas lintas negara menurun akibat ketidakpastian geopolitik, yang berdampak pada penurunan jumlah wisatawan dan aktivitas ekonomi pendukungnya.
Gangguan rantai pasok turut memengaruhi operasional industri. Keterlambatan bahan baku menyebabkan produksi terhambat, bahkan berpotensi menurunkan kapasitas output. Perusahaan juga cenderung menambah stok untuk mengantisipasi risiko, yang berujung pada peningkatan biaya inventori dan tekanan terhadap arus kas. Pada industri keramik, kenaikan harga energi semakin membebani biaya produksi, di mana porsi energi mencapai 33-35% dari total biaya. Selain itu, potensi limpahan ekspor dari China dan India ke Indonesia dapat menekan daya saing domestik.
Sementara itu, industri plastik menghadapi lonjakan harga bahan baku hingga dua kali lipat, dari kisaran Rp 15-17 ribu per kg menjadi Rp 30 ribu per kg, ditambah ketidakpastian jadwal pengiriman. Di sektor perdagangan, kawasan Teluk Persia-Selat Hormuz mencatat nilai transaksi sebesar US$ 1,2 triliun atau sekitar 20% pengiriman kontainer global, sehingga gangguan di wilayah ini berisiko menghambat rantai pasok internasional, termasuk Indonesia.
Dampaknya juga merambat ke sektor pertanian, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor pupuk dari kawasan tersebut. Pada industri sawit, tekanan semakin terasa karena pupuk menyumbang hingga 60% biaya produksi, dengan harga KCL yang sebelumnya pernah melonjak dari Rp 6 ribu menjadi Rp 18 ribu per kg.