Kapal induk Giuseppe Garibaldi resmi memulai babak baru usai bersandar di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9). Kapal hibah dari pemerintah Italia ini mencatatkan sejarah baru sebagai kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Di bawah naungan TNI Angkatan Laut, kapal bernomor lambung 551 tersebut disiapkan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama misi penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan, sekaligus memperkuat modernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dalam menjaga kedaulatan perairan Nusantara.
Diambil dari nama tokoh militer Italia abad ke-19, ketangguhan operasional kapal ini ditopang oleh sistem dapur pacu berkonfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine). Melansir data dan laporan Naval Encyclopedia, empat unit turbin gas General Electric/Avio LM2500 mampu menyemburkan tenaga hingga 82.000 tenaga kuda menuju dua poros baling-baling lima bilah. Rangkaian mesin tersebut memungkinkan kapal berlayar hingga kecepatan puncak 30 knot, dengan daya jelajah mencapai 7.000 mil laut (sekitar 13.000 km) pada kecepatan jelajah 20 knot.
Kebutuhan daya listrik disuplai oleh enam unit generator diesel Grandi Motori Trieste B230/12 yang terhubung pada alternator Ansaldo-Elettrital berdaya 1.560 kW per unit. Dua generator di antaranya difungsikan khusus sebagai unit cadangan darurat di luar kompartemen utama demi menjamin kelangsungan daya saat situasi genting. Pengawasan seluruh sistem propulsi dan kelistrikan diatur secara terpadu melalui konsol kendali S.E.P.A. 7614 di ruang operasi platform (Platform Operations Centre).
Di sektor persenjataan, kapal dirancang dengan sistem pertahanan mandiri yang menyeluruh. Dua peluncur delapan sel Selenia Albatros dengan cadangan 48 rudal Aspide disiagakan untuk pertahanan udara jarak menengah. Proteksi jarak dekat (CIWS) dipercayakan pada tiga kubah meriam ganda Breda 40mm/70 berkecepatan 300 tembakan per menit dengan jangkauan sapuan hingga 360 derajat. Kapal ini sebelumnya juga mengusung empat peluncur ganda rudal anti-kapal OTOMAT Mk-2 sebelum dibongkar pada modernisasi 2003 untuk memperluas geladak.
Untuk menangkal ancaman bawah laut, tersedia dua peluncur torpedo tripel 324 mm jenis ILAS-3 yang memuat torpedo ringan jenis Mk 46 serta A-244. Unsur udaranya sendiri diperkuat oleh perpaduan helikopter serbu, helikopter anti-kapal selam, serta kompatibilitas dengan pesawat tempur lepas landas vertikal/pendek (V/STOL) jenis AV-8B Harrier II+.
Pusat kendali taktis terpusat di ruang operasi tempur lewat sistem Selenia IPN-20 bagian dari SADOC-3. Pengawasan wilayah udara dipantau radar intai tiga dimensi Hughes AN/SPS-52C berjarak pantau 400 km, didampingi radar Selenia RAN-3L dan RAN-10S.
Lambung kapal juga dibekali perangkat sonar frekuensi rendah Raytheon DE 1160LF yang telah ditingkatkan menjadi unit DMSS-2000 buatan Italia. Keamanan navigasi didukung radar GEM Elettronica dan instrumen Tacan URN-25, dilengkapi proteksi perang elektronika terpadu Nettuno, decoy anti-torpedo AN/SLQ-25 Nixie, serta dua peluncur suar dan pengecoh rudal Breda SCLAR.