RANGKUMAN
Financial Ecosystem dan Digital Transformation
Special Session B.3
Jakarta Globe Room
Jakarta, 08 Oktober 2026
Speakers:
1. M.Misbahul Munir - SEPV Digital Banking PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk
2. Dr. Sis Apik Wijayanto - Dean of the School of Vocational and Professional Studies Perbanas Institute
3. Claudia Colonas - CO Founder Pluang
Transformasi Digital Industri Keuangan, BSI dan Pluang Perkuat Inovasi Berbasis AI
JAKARTA – Transformasi digital semakin menjadi faktor penting dalam pengembangan ekosistem keuangan Indonesia. Perbankan, platform investasi digital, hingga institusi pendidikan terus memperkuat inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), untuk meningkatkan efisiensi, memperluas akses layanan, dan membangun kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Financial Ecosystem dan Digital Transformation pada Special Session B.3 yang digelar di Jakarta Globe Room, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Diskusi menghadirkan SEVP Digital Banking PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) M. Misbahul Munir, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas, serta Dean of the School of Vocational and Professional Studies Perbanas Institute Dr. Sis Apik Wijayanto.
Ketiga narasumber menyoroti pentingnya inovasi digital, penguatan literasi keuangan, kesiapan sumber daya manusia, serta manajemen risiko dalam membangun industri keuangan yang berkelanjutan.
BSI Perkuat Ekosistem Digital dan Perbankan Emas
M. Misbahul Munir mengungkapkan bahwa ekonomi syariah memiliki peluang pertumbuhan yang sangat besar. Potensi ekonomi Islam atau ekosistem halal global diperkirakan mencapai US$2,6 triliun atau sekitar Rp45.000 triliun, setara dengan kurang lebih 10 kali lipat APBN Indonesia.
Meski memiliki populasi Muslim yang besar, Indonesia saat ini berada di peringkat keempat global dalam ekonomi syariah. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang Indonesia untuk memperkuat peran sebagai pemain utama dalam ekosistem halal dunia, bukan hanya sebagai konsumen.
Untuk menangkap peluang tersebut, BSI terus memperluas layanan digital, baik bagi nasabah individu maupun korporasi. Layanan yang dikembangkan mencakup tabungan, deposito, pembiayaan digital, pembiayaan otomotif dan perumahan, hingga pembelian sukuk.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan layanan bank emas atau bullion bank. BSI disebut menjadi bank pertama di Indonesia yang memiliki izin ganda sebagai bank syariah sekaligus bank bullion.
Melalui layanan tersebut, nasabah dapat menabung, membeli, menjual, hingga mentransfer emas dalam satuan gram kepada individu lain.
BSI juga meluncurkan platform BSI Gold untuk segmen korporasi pada Oktober 2026. Platform ini memungkinkan perusahaan melakukan pembelian emas dalam jumlah besar, memanfaatkan emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging), hingga memberikan bonus pegawai dalam bentuk emas.
Dari sisi kinerja digital, aplikasi BYOND by BSI telah mencatatkan lebih dari 24,3 juta nasabah, dengan pertumbuhan sekitar 200.000 nasabah setiap bulan. Sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah interaksi dan transaksi tercatat mencapai 1 miliar, sementara jumlah merchant BSI telah melampaui 500.000.
Pengembangan layanan digital juga menjangkau transaksi internasional. QRIS BSI telah dapat digunakan di enam negara, yakni Jepang, Thailand, Malaysia, Singapura, Korea, dan Cina. Ke depan, layanan tersebut juga dipersiapkan untuk mendukung transaksi jamaah haji, umrah, serta wisatawan di Arab Saudi.
Dalam pemanfaatan AI, BSI mengembangkan tiga area utama, yakni AI for Business, AI for Operation, IT, and Risk, serta AI for Daily Work. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, mendeteksi potensi penipuan, hingga membantu pekerjaan sehari-hari karyawan. BSI juga mengembangkan pendekatan hyper-personalization dengan memanfaatkan jejak digital nasabah untuk memahami kebutuhan dan karakteristik individu sehingga penawaran produk dapat disesuaikan dengan profil masing-masing nasabah.
Pluang Dorong Investasi Multiaset dan Agentic Trading
Sementara itu, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam berinvestasi, terutama generasi muda yang semakin terbuka terhadap berbagai instrumen investasi. Pluang menyediakan beragam produk investasi dalam satu aplikasi, mulai dari saham Amerika Serikat, saham Indonesia, emas, reksa dana, hingga aset kripto.
Pada awal peluncurannya pada 2019, kripto menjadi produk investasi paling populer di kalangan pengguna muda. Namun, seiring meningkatnya literasi investasi, pengguna mulai melakukan diversifikasi portofolio. Saat ini, hampir 40% pengguna Pluang telah memiliki portofolio multiaset, seperti mengombinasikan investasi kripto dengan saham Indonesia maupun reksa dana.
Dari sisi preferensi pengguna, kripto masih menjadi aset yang paling banyak dikoleksi, diikuti emas, kemudian saham Indonesia dan saham Amerika Serikat.
Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam investasi. Dalam diskusi disebutkan bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) di Indonesia meningkat hingga hampir 10 juta pada tahun ini, dengan mayoritas investor masuk melalui instrumen reksa dana.
Untuk meningkatkan pengalaman pengguna, Pluang mengembangkan teknologi agentic trading berbasis AI. Melalui fitur tersebut, pengguna dapat berinteraksi dengan AI melalui percakapan atau chat untuk menjalankan strategi dan instruksi perdagangan.
Pluang juga mengintegrasikan fitur analisis portofolio dan edukasi investasi dengan teknologi Large Language Models (LLM), termasuk model AI pilihan pengguna yang dapat dihubungkan langsung dengan akun investasi. Inovasi ini memungkinkan pengguna memperoleh informasi dan analisis investasi tanpa harus melakukan pencarian secara manual melalui berbagai platform. Selain itu, akses investasi multiaset dipermudah melalui satu kali proses verifikasi identitas atau Know Your Customer (KYC).
Meski demikian, Claudia mengingatkan adanya tantangan literasi keuangan, terutama terkait pengaruh media sosial dan maraknya financial influencer atau finfluencer yang belum tentu memiliki kualifikasi memadai. Menurut pemaparan dalam diskusi, fenomena tersebut dapat menjadi tantangan bagi perlindungan investor karena berpotensi mendorong masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang menyesatkan.
Karena itu, Pluang mendukung upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan AFTECH dalam memperkuat regulasi serta persyaratan sertifikasi bagi finfluencer. Pluang juga menerapkan pendekatan selektif dalam bekerja sama dengan influencer yang memiliki pengalaman dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi investasi.
Pendidikan Harus Siapkan Talenta Digital dan Berintegritas
Di sisi lain, Dr. Sis Apik Wijayanto menekankan bahwa transformasi industri keuangan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar inovasi dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Industri keuangan saat ini menghadapi berbagai tantangan eksternal, mulai dari dinamika suku bunga global, tekanan nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.
Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan dengan gelar akademik, tetapi juga talenta yang memiliki keterampilan, pengetahuan, etika, serta pemahaman tata kelola yang kuat.
Perbanas Institute mengembangkan kerja sama dengan industri perbankan, fintech, dan regulator melalui program kuliah tamu, CEO lecture, penyelarasan kurikulum vokasi, serta program pendidikan profesional.
Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja atau skill mismatch. Selain penguasaan teknologi digital dan AI, aspek keberlanjutan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan.
Perbanas Institute mengintegrasikan materi perubahan iklim, budaya keberlanjutan, dan etika ke dalam kurikulum pendidikan, mulai dari jenjang diploma, sarjana, magister, hingga doktoral.
Kepercayaan Jadi Fondasi Transformasi Keuangan
Ketiga narasumber juga menempatkan kepercayaan atau trust sebagai fondasi penting dalam pengembangan ekosistem keuangan digital.
Dari sisi perbankan, BSI menekankan keamanan dan stabilitas sistem sebagai prioritas dalam operasional maupun pengembangan infrastruktur teknologi. BSI mengoperasikan command center setiap hari untuk memantau keamanan serta stabilitas layanan. Bank juga melakukan audit secara berkala dan membandingkan standar operasionalnya dengan bank-bank besar.
Sementara itu, Pluang menjaga kepercayaan investor melalui kerja sama dengan infrastruktur perbankan, termasuk Rekening Dana Nasabah (RDN), serta lembaga kustodian yang kredibel.
Dari perspektif pendidikan, Perbanas Institute menekankan pentingnya pembentukan integritas melalui pengajaran etika bisnis, tata kelola perusahaan yang baik, dan kode etik profesi. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi keuangan diimbangi dengan kemampuan pengelolaan risiko dan tanggung jawab terhadap dana masyarakat.
BSI Bidik Lima Besar Bank Syariah Global
Dalam lima tahun mendatang, BSI menargetkan peningkatan posisi di industri perbankan syariah internasional. Setelah mencapai target masuk jajaran 10 besar bank syariah global pada 2025, BSI kini membidik posisi lima besar bank syariah dunia dalam lima tahun ke depan.
Strategi tersebut diarahkan pada pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, menguntungkan, dan tetap relevan bagi berbagai kelompok masyarakat, mulai dari generasi muda, nasabah individu, korporasi, hingga institusi.
Sementara itu, Pluang berkomitmen memperkuat kepercayaan investor global melalui sinergi dengan Danantara dan AFTECH, sekaligus mendorong reformasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Adapun Perbanas Institute akan terus mempersiapkan talenta yang adaptif terhadap perkembangan AI, memiliki integritas, serta mampu mendukung agenda keberlanjutan nasional.
Secara keseluruhan, diskusi ini memperlihatkan bahwa masa depan industri keuangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem yang aman, inklusif, dan terpercaya.
Kolaborasi antara lembaga keuangan, perusahaan teknologi investasi, regulator, dan institusi pendidikan menjadi elemen penting agar transformasi digital mampu mendorong pertumbuhan industri keuangan Indonesia secara berkelanjutan.