Hilirisasi tembaga di Indonesia kian menunjukkan taji. Kapasitas produksi katoda tembaga nasional kini tercatat mencapai 1,2 juta ton per tahun. Kapasitas 1,2 juta ton katoda tembaga tersebut setara dengan kebutuhan produksi sekitar 12 juta unit mobil listrik, ratusan gigawatt instalasi pembangkit energi terbarukan, atau material tembaga untuk membangun sekitar 2.000 gedung pencakar langit seukuran Empire State Building.
Meski potensinya luar biasa, tantangan terbesar saat ini berada pada daya serap pasar dalam negeri. Dalam acara Investor Daily Summit 2026, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengungkapkan bahwa tingkat penyerapan domestik untuk katoda tembaga saat ini cukup rendah. “Angkanya masih berkisar antara 20% hingga 30%. Hal tersebut menuntut percepatan penanaman modal di sektor manufaktur pemakai tembaga, timah, dan aluminium,” ujar Tony.
Kondisi pasokan ini diproyeksikan terus melonjak seiring beroperasinya smelter-smelter baru. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau, menilai penguatan fasilitas pemurnian baru akan mengerek total suplai katoda tembaga nasional ke level 1,2 juta hingga 1,3 juta ton per tahun. Capaian ini menyusul kesuksesan hilirisasi nikel yang sudah menguasai 55% hingga 60% pangsa pasar global melalui produk nickel matte dan Nickel Pig Iron (NPI). Pada periode 2027–2028, kapasitas smelter nikel bahkan diproyeksikan menghasilkan 2,5 juta ton NPI dan 1 juta ton MHP.
Lompatan produksi tembaga nasional ini terbilang fantastis jika dibandingkan beberapa tahun ke belakang. Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM mencatat, produksi katoda tembaga Indonesia pada 2019 hanya berada di level 180 ribu ton. Kini, kapasitas melonjak berkali-kali lipat seiring rampungnya proyek-proyek smelter tembaga terintegrasi.
Salah satu motor utama lonjakan pasokan tersebut datang dari smelter anyar PTFI di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur. Sempat tertahan akibat kendala pasokan bijih menyusul insiden longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC), smelter Manyar dijadwalkan mulai memproduksi katoda tembaga perdananya sebesar 5.000 ton (sekitar 11,02 juta pon) pada September 2026.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, Selasa (15/9), Tony Wenas menyampaikan bahwa pasokan ke smelter baru Freeport Indonesia mulai berjalan pada Agustus dan ditargetkan mulai berproduksi pada September dengan kapasitas sekitar 5.000 ton katoda tembaga.
Setelah tahap awal pada September, laju produksi smelter Manyar akan terus dipacu secara bertahap. Freeport memproyeksikan produksi akan naik menjadi 35 juta pon pada Oktober 2026, 55 juta pon pada November, dan menembus 57 juta pon pada Desember 2026. Dengan penambahan tersebut, total produksi katoda tembaga Freeport diperkirakan mencapai 800 juta pon sepanjang tahun ini.