Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis Hasil Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026. Riset mandiri yang melibatkan 63 pakar dari kalangan akademisi, lembaga riset, think tank, sektor swasta, hingga institusi multinasional pada periode 21 September–13 Oktober 2026 ini merekam adanya tekanan nyata pada sejumlah indikator utama perekonomian nasional.
Terkait kondisi ekonomi terkini dibandingkan tiga bulan lalu, mayoritas atau 52% responden (33 orang) menilai perekonomian Indonesia memburuk. Angka tersebut terdiri atas 46% (29 orang) yang menyebut kondisi lebih buruk dan 6% (4 orang) menilai jauh lebih buruk. Sebanyak 40% responden (25 orang) menyatakan kondisi stagnan atau tidak berubah, sementara hanya 8% (5 orang) yang melihat adanya perbaikan. Tak ada satu pun ekonom yang menilai perekonomian berada dalam kondisi jauh lebih baik.
Sentimen pesimistis juga membayangi laju inflasi. Sebanyak 78% ahli (49 responden) menilai tekanan inflasi saat ini berada di level tinggi, dengan rincian 70% (44 orang) menilai tinggi dan 8% (5 orang) sangat tinggi. Sebaliknya, 21% responden (13 orang) memandangnya netral dan hanya 2% (1 orang) yang menganggapnya rendah.
Kondisi serupa terjadi pada sektor ketenagakerjaan. Sebanyak 73% ekonom (46 responden) menilai penciptaan lapangan kerja saat ini lebih rendah dibandingkan enam bulan lalu, yang mencakup 48% (30 orang) menilai lebih rendah dan 25% (16 orang) jauh lebih rendah. Hanya 24% responden (15 orang) yang menyebut tidak ada perubahan, serta 3% (2 orang) yang menilai serapan tenaga kerja lebih tinggi.
Tekanan turut dirasakan pada iklim usaha. Sebanyak 56% responden (35 orang) menganggap lingkungan bisnis memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya, dengan 41% (26 orang) menilai lebih buruk dan 14% (9 orang) jauh lebih buruk. Adapun 38% responden (24 orang) menyatakan iklim usaha tidak berubah, dan hanya 6% (4 orang) yang melihat adanya perbaikan.