Kehadiran jalan tol Trans-Jawa kini tidak lagi sekadar menjadi jalur pergerakan kendaraan, melainkan telah bertransformasi menjadi koridor penggerak ekonomi antardaerah. Pengelolaan jaringan bebas hambatan ini terbukti memangkas waktu tempuh perjalanan darat secara drastis sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi wilayah yang dilintasinya.
Data tersebut dipaparkan langsung oleh Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono, dalam forum Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10).
Secara nasional, Jasa Marga saat ini mengelola 1.294 kilometer (km) jalan tol atau menguasai sekitar 42% dari total tol operasional di Indonesia. Khusus di koridor Trans-Jawa, perseroan mengoperasikan jaringan sepanjang sekitar 676 km yang mencakup 13 ruas tol di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Jalan tol bukan sekadar infrastruktur konektivitas, tetapi penggerak nilai dan pertumbuhan ekonomi," papar Rivan.
Dampak ekonomi paling nyata terlihat dari laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Daerah yang terhubung langsung dengan akses tol mencatatkan pertumbuhan PDRB sebesar 5 hingga 7% per tahun. Angka ini terpaut lebih tinggi 0,5 sampai 1,5 poin persentase dibandingkan wilayah yang belum memiliki akses tol langsung.
Konektivitas ini juga menciptakan lompatan efisiensi waktu perjalanan. Perjalanan darat dari Jakarta menuju Surabaya yang sebelumnya membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari, kini terpangkas menjadi hanya 8 sampai 10 jam. Sementara rute Jakarta menuju Semarang kini dapat ditempuh dalam tempo 5 hingga 6 jam.
Efisiensi waktu tersebut turut mengubah peta transportasi publik antarkota. Koridor Trans-Jawa kini diramaikan oleh 1.500 hingga 2.000 unit armada bus antarkota antarprovinsi (AKAP) kelas eksekutif dan sleeper bus, dengan lonjakan armada baru mencapai 60 persen karena tingginya minat masyarakat beralih menggunakan angkutan darat modern.
Selain sektor logistik dan transportasi, denyut pariwisata daerah ikut terangkat. Kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke kawasan yang terhubung tol meningkat antara 20 hingga 35% bahkan menembus kenaikan 50-70% pada musim liburan. Tren ini sekaligus mengerek tingkat keterisian kamar hotel sebesar 10-15% di sejumlah destinasi favorit, seperti kawasan Joglosemar, Malang, Probolinggo, Banyuwangi, serta kawasan wisata Gunung Bromo dan Kawah Ijen.