Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan drastis pada perdagangan Jumat (16/10). Pada awal sesi perdagangan, IHSG langsung anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92. Penurunan tajam yang melampaui batas ambang tersebut memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) selama 30 menit guna meredam kepanikan pasar.
Berdasarkan ketentuan BEI, kebijakan trading halt selama 30 menit wajib diaktifkan apabila IHSG mengalami penurunan sebesar 8% dalam satu hari bursa. Jika koreksi indeks terus berlanjut hingga menyentuh 15%, otoritas bursa akan kembali menghentikan perdagangan saham selama 30 menit berikutnya. Sementara itu, apabila kejatuhan indeks telah mencapai 20%, BEI akan menerapkan penghentian perdagangan secara penuh (trading suspend) hingga akhir sesi atau bahkan lebih lama dengan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sentimen utama yang memukul pasar saham domestik bertepatan dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga pemeringkat indeks global tersebut resmi membuka proses konsultasi publik terkait usulan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia, dari status pasar berkembang (Emerging Market) langsung menuju pasar mandiri (Standalone Market). Kabar perombakan status ini memicu kepanikan investor dan gelombang aksi jual masif sejak bursa dibuka.
Tekanan jual pun berlanjut hingga penutupan perdagangan sesi pertama, yang menyeret IHSG turun lebih dalam sebesar 10,76% ke posisi 5.233. Kejatuhan pasar tampak menyeluruh dengan catatan 809 saham melemah, hanya 15 saham yang mampu menguat, serta 139 saham lainnya stagnan. Pada akhir hari perdagangan Jumat (16/10), IHSG bahkan ditutup ambles 11,57% ke posisi 5.185,11, yang memperpanjang rekor kemerosotan indeks hingga 21,83% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Dari sisi sektoral, sektor bahan baku memimpin pelemahan dengan koreksi terdalam mencapai 12,96%, disusul sektor energi yang ambles 12,21% dan sektor infrastruktur terkoreksi 12,13%. Pelemahan beruntun juga melanda sektor industri sebesar 10,79%, kesehatan 10,42 persen, serta konsumer siklikal 10,15%. Sementara itu, sektor konsumer non-siklikal turun 9,70%, transportasi melemah 9,45%, properti terpangkas 9,37%, teknologi merosot 8,32%, dan sektor keuangan terkikis 8,22%. (Vebriansyah Pratama Putra)