RANGKUMAN
When Market Swings, Winner Think
Special Session C.1
Investor Daily Room
Jakarta, 08 Oktober 2026
Speakers:
1. Andry Hakim - Founder & CIO @hakimson.id
2. Gema Goeyardi - Founder & CEO PT Astronacci International
3. Zabrina Raissa - Head of Online Trading / Corporate Finance & Strategic Analysis Expert PT Ciptadana Sekuritas Asia
IDS 2026: Investor Diminta Cermat Hadapi Koreksi IHSG, Perhatikan Fundamental dan Valuasi
JAKARTA – Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 menjadi tantangan bagi investor pasar modal Indonesia. Di tengah tekanan tersebut, investor dinilai perlu memahami kondisi makroekonomi, menjaga disiplin strategi, serta membedakan saham yang memiliki peluang pemulihan dari saham yang berisiko terjebak dalam penurunan berkepanjangan.
Hal tersebut mengemuka dalam sesi Special Session C.1 bertajuk When Market Swings, Winner Think di Investor Daily Room, Jakarta, Kamis (8/10). Sesi ini menghadirkan Founder & CIO @hakimson.id Andry Hakim, Founder & CEO PT Astronacci International Gema Goeyardi, serta Head of Online Trading PT Ciptadana Sekuritas Asia Zabrina Raissa.
Berdasarkan paparan dalam sesi tersebut, per 7 Oktober 2026 IHSG terkoreksi 28,91% secara year-to-date (YTD), setelah sempat mencetak rekor tertinggi di atas level 9.000 pada awal tahun. Koreksi pasar saham Indonesia juga tercatat lebih dalam dibandingkan indeks BSE Sensex India yang turun 14,58%.
Gema Goeyardi menilai pergerakan pasar saat ini memiliki kemiripan dengan siklus 2013–2015. Berbeda dari kejatuhan pasar yang berlangsung mendadak, koreksi kali ini dinilai terjadi secara bertahap sehingga menguji ketahanan psikologis investor.
Jika pada 2013 pasar menghadapi dampak Taper Tantrum dan defisit perdagangan, sedangkan pada 2015 tekanan berasal dari perlambatan ekonomi global, kondisi 2026 dinilai dipengaruhi ancaman krisis utang global, perlambatan pertumbuhan dunia, dan kenaikan imbal hasil obligasi di negara maju.
Gema memperkirakan pemulihan pasar secara lebih menyeluruh baru berpotensi terjadi pada pertengahan hingga kuartal III 2027. Ia juga memperkirakan adanya dorongan kenaikan sementara pada akhir 2026 hingga Januari 2027, meski fenomena January Effect diprediksi tidak terjadi pada 2027.
Kepercayaan Pasar dan Kondisi Makro Jadi Perhatian
Selain faktor global, kebijakan domestik turut menjadi perhatian para pembicara. Konsistensi kebijakan pemerintah dan disiplin fiskal dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan pasar, khususnya pada kuartal IV 2026.
Dalam paparan tersebut, pelebaran defisit APBN melampaui batas 3% dikaitkan dengan risiko penurunan peringkat kredit Indonesia. Skenario tersebut dipandang berpotensi memicu arus keluar modal asing dalam jumlah besar dan menekan nilai tukar rupiah. Namun, dampaknya bergantung pada perkembangan kondisi fiskal, penilaian lembaga pemeringkat, dan respons investor.
Tekanan eksternal juga berasal dari tingginya imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS. Sementara itu, meskipun kinerja ekspor Indonesia membaik pada semester pertama 2026, peningkatan impor disebut mempersempit surplus neraca perdagangan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7% berdasarkan proyeksi Bank Indonesia yang disebut dalam rangkuman paparan. Para pembicara menilai pemulihan kepercayaan pasar menjadi salah satu faktor penting untuk menopang pergerakan pasar saham ke depan.
Dalam konteks geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan dan luar negeri negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, dinilai semakin memengaruhi dinamika pasar. Pertemuan pimpinan Amerika Serikat dan Tiongkok juga dipandang membuka peluang bagi Indonesia untuk membenahi kondisi ekonomi domestik.
Andry Hakim Tekankan Saham sebagai Kepemilikan Bisnis
Andry Hakim menekankan bahwa membeli saham berarti membeli kepemilikan dalam suatu bisnis, bukan sekadar memperdagangkan lembar saham. Karena itu, keputusan investasi perlu didasarkan pada pemahaman terhadap perusahaan dan kualitas bisnisnya.
Ia membedakan strategi saham investasi dan saham trading. Dalam kondisi pasar yang lesu, strategi investasi dapat berfokus pada saham defensif dan pembagian dividen, termasuk saham perbankan besar yang dinilai memiliki fundamental kuat. Sementara itu, strategi trading lebih berorientasi pada momentum pasar dan memerlukan disiplin dalam membatasi kerugian ketika pergerakan harga tidak sesuai analisis.
Andry juga menyoroti pentingnya dividen sebagai bagian dari perhitungan imbal hasil. Dalam ilustrasi yang disampaikan, pendapatan dividen dapat membantu mengimbangi penurunan harga saham. Meski demikian, hasil investasi tetap bergantung pada harga beli, kinerja perusahaan, besaran dividen, dan risiko yang dihadapi.
Bagi investor bermodal terbatas, Andry menilai pengembangan modal membutuhkan strategi yang sesuai dengan kapasitas masing-masing serta kesiapan menerima kerugian sebagai bagian dari risiko investasi.
Dirinya menyebut kombinasi kinerja keuangan yang solid dan narasi bisnis yang menarik sebagai dua faktor yang dapat mendukung potensi kenaikan harga saham. Oleh karena itu, riset terhadap laporan keuangan, rekam jejak manajemen, dan prospek bisnis menjadi bagian penting sebelum mengambil keputusan.
Gema Goeyardi Soroti Psikologi dan Siklus Pasar
Gema Goeyardi menekankan pentingnya ketahanan mental saat menghadapi pasar yang tertekan. Ia mengangkat prinsip Warren Buffett, “Be greedy when others are fearful”, sebagai gambaran pendekatan yang berani ketika investor lain diliputi ketakutan.
Gema menilai saham perbankan besar yang mengalami koreksi dapat menjadi perhatian investor ketika harganya dinilai berada di bawah nilai wajarnya. Ia juga menyoroti pentingnya arus dana dan perhatian pasar dalam mendorong kenaikan harga saham, selain kualitas fundamental perusahaan.
Dalam pendekatan Astronacci, Gema menggunakan analisis siklus dan posisi benda langit berdasarkan pengamatan statistik. Berdasarkan metodenya, sektor keuangan dan energi dinilai memiliki probabilitas kenaikan lebih dari 70% pada November–Desember. Proyeksi tersebut merupakan pendekatan analisis yang disampaikan pembicara, bukan kepastian hasil pasar.
Gema juga menekankan peran dividen sebagai penyangga ketika harga saham belum pulih. Ia menilai investor perlu memahami analisis dari kondisi makro hingga perusahaan, meningkatkan literasi keuangan, dan mempelajari pasar melalui sumber edukasi yang terstruktur.
Zabrina Raissa: Bedakan Value Opportunity dan Value Trap
Zabrina Raissa memaparkan strategi alokasi portofolio dengan membagi investasi menjadi dua bagian. Sebanyak 70% ditempatkan pada core portfolio, yaitu saham defensif dengan fundamental solid, termasuk perbankan besar. Adapun 30% dialokasikan pada satellite portfolio, yang berisi saham dengan prospek pertumbuhan dan potensi kenaikan lebih tinggi ketika pasar pulih.
Ia juga mengingatkan investor agar tidak menyamakan seluruh saham berharga murah sebagai peluang investasi. Saham yang turun harga dapat menjadi value opportunity apabila valuasinya berada di bawah nilai intrinsik sementara kinerja keuangannya tetap kuat. Sebaliknya, saham dapat menjadi value trap apabila harga murah mencerminkan penurunan kinerja yang berkepanjangan.
Untuk menilai saham, Zabrina menyoroti tiga aspek utama, yakni kualitas perusahaan (quality), valuasi (valuation), dan arus dana atau sentimen pasar (flow). Ketiganya perlu dipertimbangkan bersama agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada harga yang terlihat murah.
Zabrina juga menekankan pentingnya melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR), sekaligus mengenali profil risiko dan gaya investasi masing-masing.
Arus Modal Asing Dipengaruhi Kepercayaan Investor
Dalam pembahasan mengenai investor asing, para pembicara menilai arus keluar modal tidak selalu mencerminkan konspirasi untuk menekan harga saham. Pergerakan tersebut dapat dipengaruhi oleh penurunan kepercayaan terhadap kondisi makroekonomi dan kebijakan domestik, kebutuhan likuiditas di negara asal, atau perpindahan dana ke pasar lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Pasar obligasi negara maju serta bursa Jepang dan Tiongkok disebut sebagai alternatif alokasi modal. Di kawasan regional, Vietnam juga dipandang sebagai pesaing Indonesia dalam menarik aliran dana asing.
Meski demikian, valuasi saham Indonesia yang disebut berada pada rasio price-to-earnings (PER) sekitar 12 kali dan imbal hasil dividen perbankan yang menarik dinilai berpotensi menjadi daya tarik bagi investor asing ketika kondisi makroekonomi dan kepercayaan pasar membaik.
Pembahasan juga membedakan investor asing institusional dengan istilah “Aseng”, yang dalam paparan merujuk pada pelaku lokal yang menggunakan akun atau entitas asing untuk melakukan transaksi. Pembedaan ini penting agar arus transaksi asing tidak serta-merta dianggap sebagai manipulasi pasar.
Literasi Investasi Jadi Kunci Menghadapi Volatilitas
Para pembicara menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan jumlah investor ritel baru dan perkembangan edukasi investasi. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian investor bereaksi berlebihan terhadap koreksi kecil dan memperlakukan pasar modal sebagai sarana spekulasi harian.
Karena itu, investor didorong memperkuat pemahaman terhadap fundamental perusahaan, valuasi, arus dana, kondisi makroekonomi, serta risiko setiap instrumen. Disiplin dalam menyusun strategi dan menyesuaikannya dengan profil risiko dinilai penting untuk menghadapi volatilitas pasar.
Di tengah koreksi IHSG, pesan utama sesi ini adalah bahwa peluang investasi perlu dinilai melalui riset dan pertimbangan risiko, bukan hanya berdasarkan penurunan harga. Pemulihan pasar tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, konsistensi kebijakan domestik, dan kembalinya kepercayaan investor. (Yesi Rahma Mustika)