IDS 2026: Adopsi AI Tinggi, Indonesia Hadapi Tantangan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:31 WIB

A
Penulis: Ajeng Wirachmi | Editor: AW
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
IDS 2026: Adopsi AI Tinggi, Indonesia Hadapi Tantangan
IDS 2026: Adopsi AI Tinggi, Indonesia Hadapi Tantangan

RANGKUMAN

AI: Restructuring Economic Landscape

Plenary Session 2 

Investor Daily Plenary Room

Jakarta, 08 Oktober 2026

Speakers: 

1. Wijaya Kusumawardhana, Expert Staff to the Minister of Communication and Digital Affairs

2. Ari Sondang Widyanto Sibarani - VP Data and AI Management PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)

3. Shinta W. Kamdani - Chairwoman APINDO

4. Dr. Ir. Edy Irwansyah, M.Si., ASEAN Eng. - Associate Professor at the School of Computer Science BINUS University

IDS 2026: Adopsi AI Tinggi, Indonesia Hadapi Tantangan Ciptakan Nilai Tambah

JAKARTA – Tingginya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia belum sepenuhnya diikuti kemampuan menciptakan nilai tambah ekonomi. Tantangan berikutnya adalah mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan teknologi lokal, dan menciptakan profesi baru.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi AI: Restructuring Economic Landscape pada Indonesia Digital Summit (IDS) 2026 di Investor Daily Plenary Room, Jakarta, Kamis (8/10). Sesi ini menghadirkan Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital; Ari Sondang Widyanto Sibarani, VP Data and AI Management Telkomsel; Shinta W. Kamdani, Ketua Umum APINDO; serta Dr. Edy Irwansyah, Associate Professor School of Computer Science BINUS University.

Berdasarkan Microsoft Work Trend Index 2024 yang dikutip dalam diskusi, sebanyak 83% pekerja Indonesia telah menggunakan AI. Namun, tingginya adopsi tersebut masih menyisakan tantangan dalam pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan inovasi dan nilai ekonomi yang lebih besar.

Pemerintah Dorong Pengembangan Talenta dan Teknologi Lokal

Wijaya Kusumawardhana menjelaskan bahwa tantangan Indonesia tidak lagi terbatas pada akses terhadap teknologi AI, tetapi juga kedalaman pemanfaatannya. AI perlu digunakan melampaui fungsi sederhana, seperti menyaring konten atau membuat gambar, menuju pemecahan masalah dan penciptaan nilai tambah.

Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah menargetkan penciptaan 12 juta talenta digital pada 2030. Saat ini, jumlah talenta digital yang tercatat berada di kisaran 5 juta hingga 6 juta orang. Pengembangan kompetensi dilakukan melalui kerja sama dengan platform teknologi global, termasuk Google dan Amazon.

Pemerintah juga mengembangkan Sahabat-AI yang mendukung empat bahasa lokal, yakni Jawa, Batak, Sunda, dan Bugis. Selain itu, pembangunan AI Tech Factory bersama perguruan tinggi serta Digital Innovation Hub diarahkan untuk mengembangkan talenta dan mendorong lahirnya perusahaan rintisan berbasis AI.

Dari sisi tata kelola, pemerintah menyiapkan peta jalan AI nasional periode 2026–2029 dan kebijakan etika AI yang menempatkan manusia sebagai pusat pemanfaatan teknologi. Integrasi dan perlindungan data juga menjadi bagian penting untuk memastikan penggunaan AI berlangsung secara bertanggung jawab.

Dunia Usaha Hadapi Risiko Pergeseran Nilai Ekonomi

Shinta W. Kamdani menyoroti risiko yang lebih luas daripada pergeseran pekerjaan akibat otomatisasi, yakni economic displacement. Risiko ini muncul ketika suatu negara hanya menjadi pengguna teknologi, sementara nilai ekonomi tertinggi dari kepemilikan data, model komputasi, dan platform dikuasai pihak lain.

Menurut kerangka yang dibahas, Indonesia perlu bergerak menjadi pengembang teknologi sekaligus pencipta nilai. Hal tersebut penting karena peningkatan produktivitas melalui AI tidak otomatis dinikmati secara merata oleh seluruh perusahaan dan pekerja.

Shinta juga memaparkan bahwa indeks kesiapan AI Indonesia berada di angka 0,52 pada skala maksimum 1. Angka tersebut berada di bawah rata-rata ASEAN sebesar 0,6, serta Malaysia sebesar 0,63 dan Thailand sebesar 0,54.

Untuk memperkuat kesiapan tersebut, Shinta memperkenalkan kerangka kolaborasi 6P, yang terdiri atas Policy, Producers, Platform, People, Private Capital, dan Public. Kerangka ini mencakup kepastian regulasi, keterlibatan dunia usaha, dukungan infrastruktur teknologi, pengembangan pendidikan dan riset, pendanaan untuk komersialisasi inovasi, serta perluasan manfaat AI bagi masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, pengembangan AI diharapkan tidak berhenti pada riset atau prototipe, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas ekonomi riil dan menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Telkomsel Ubah Model Bisnis untuk Menghadapi Era AI

Dari perspektif industri telekomunikasi, Ari Sondang Widyanto Sibarani menjelaskan bahwa AI telah berkembang menjadi bagian dari proses bisnis dan lapisan kecerdasan baru yang memengaruhi struktur ekonomi.

Ia menyebut interaksi konsumen terhadap layanan AI telah melampaui 30 juta pengguna aktif dengan lebih dari 150 juta interaksi. Pemanfaatan AI juga membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk membantu pelaku usaha membuat situs web tanpa harus memiliki tenaga teknologi informasi atau kemampuan pemrograman.

Namun, peningkatan penggunaan AI turut mendorong lonjakan trafik data. Kondisi ini menuntut operator telekomunikasi terus berinvestasi untuk menjaga kapasitas jaringan, latensi, dan pengalaman pelanggan, meskipun kenaikan trafik tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan.

Karena itu, model bisnis operator telekomunikasi mulai bergeser dari penyedia konektivitas menuju AI enabler dan AI orchestrator yang mengelola berbagai komponen ekosistem AI, mulai dari perangkat, aplikasi, data, komputasi, hingga model bahasa besar atau large language models (LLM).

Di sisi ketenagakerjaan, Telkomsel menerapkan peningkatan dan pelatihan ulang keterampilan atau upskilling dan reskilling untuk membantu pekerja beradaptasi dengan perubahan pekerjaan. AI dinilai dapat menghilangkan sejumlah pekerjaan lama, tetapi sekaligus membuka peluang penciptaan nilai dan lapangan kerja baru.

Pendidikan Perlu Menyiapkan Profesi Masa Depan

Edy Irwansyah menyoroti keterbatasan jumlah talenta teknis AI di Indonesia. Menurut paparan dalam sesi tersebut, program studi khusus AI masih terbatas, dengan jumlah lulusan sekitar 50 hingga 100 orang per universitas setiap tiga hingga empat tahun.

Ia juga mengacu pada survei PwC 2024 yang menunjukkan kemampuan AI menghasilkan nilai nyata masih berada di bawah 15%, meskipun tingkat adopsinya relatif tinggi. Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan antara penggunaan alat AI dan kemampuan mengembangkan solusi yang menghasilkan nilai tambah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sistem pendidikan perlu bergeser dari pendekatan konvensional menuju pendidikan yang menggabungkan pengetahuan dasar dengan keterampilan berbantuan AI sesuai bidang keilmuan. Pendekatan ini juga menekankan inovasi dan kemampuan memecahkan masalah.

Edy mengidentifikasi empat kelompok profesi yang berkembang seiring kemajuan AI, yakni profesi teknis AI seperti ilmuwan data dan arsitek AI; profesi berbasis AI pada bidang tertentu seperti GeoAI; profesional yang bekerja dengan dukungan AI, seperti dokter dan jurnalis; serta profesi tata kelola AI.

Dalam sesi tanya jawab, Ari menekankan perlunya kolaborasi pemerintah, industri telekomunikasi, penyedia infrastruktur dan energi, akademisi, serta investor. Selain mencetak insinyur AI, Indonesia juga perlu membangun tenaga kerja yang memahami AI dan mampu menggunakannya untuk menghasilkan nilai tambah.

Dengan demikian, keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas teknologi digunakan, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia mengembangkan talenta, memperkuat riset, mengelola data, dan membangun ekosistem yang memungkinkan inovasi lokal berkembang. (Yesi Rahma Mustika) 

AI: Restructuring Economic Landscape dalam Investor Daily Summit 2026 - (Investor Daily Summit 2026/B-Universe)
AI: Restructuring Economic Landscape dalam Investor Daily Summit 2026 - (Investor Daily Summit 2026/B-Universe)

Data Terkait

ids-2026-kepala-bakom-soroti-target-pertumbuhan-hingga-8
Ekonomi

IDS 2026: Kepala Bakom Soroti Target Pertumbuhan hingga 8%

Kepala Bakom RI, Syahganda Nainggolan, menyoroti pentingnya pertumbuhan ekonomi inklusif di tengah perubahan pendekatan ekonomi global.

13 Okt 2026

ids-2026-sinergi-negara-dan-pasar-jadi-kunci-mobilitas-ekonomi
Ekonomi

IDS 2026: Sinergi Negara dan Pasar Jadi Kunci Mobilitas Ekonomi

Sinergi antara peran negara dan mekanisme pasar jadi kunci untuk mendorong mobilitas ekonomi masyarakat hingga memperluas kesempatan kerja.

13 Okt 2026

ids-2026-korporasi-perkuat-pemberdayaan-masyarakat
Ekonomi

IDS 2026: Korporasi Perkuat Pemberdayaan Masyarakat

Kontribusi perusahaan terhadap pembangunan Indonesia dinilai perlu melampaui penyaluran bantuan sosial dan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

13 Okt 2026

ids-2026-raffi-dorong-anak-muda-perkuat-jejaring-dan-jiwa-wirausaha
Ekonomi

IDS 2026: Raffi Dorong Anak Muda Perkuat Jejaring dan Jiwa Wirausaha

Penguatan keterampilan dan jejaring menjadi sejumlah faktor penting untuk mendorong generasi muda Indonesia memanfaatkan peluang ekonomi.

13 Okt 2026

ids-2026-investor-diminta-cermat-hadapi-koreksi-ihsg
Ekonomi

IDS 2026: Investor Diminta Cermat Hadapi Koreksi IHSG

Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 menjadi tantangan bagi investor pasar modal Indonesia.

13 Okt 2026

ids-2026-ketidakpastian-kebijakan-dinilai-hambat-kepercayaan-investor
Ekonomi

IDS 2026: Ketidakpastian Kebijakan Dinilai Hambat Kepercayaan Investor

Dukungan politik belum cukup jamin kepastian usaha. Sinkronisasi aturan, konsistensi fiskal, dan koordinasi pusat-daerah mutlak dibenahi demi kepercayaan investor.

13 Okt 2026